Tampilkan postingan dengan label LKIS yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LKIS yogyakarta. Tampilkan semua postingan

21 November, 2010

PELACUR JUGA BERAGAMA

Oleh: Ach. Syaiful A'la*


“Agama Pelacur”. Dari judulnya saja menarik untuk dibaca. Buku ini layak dimiliki oleh akademisi, peneliti, pemerhati, dosen dan mahasiswa. Bagaimana seorang yang beragama bisa dikatakan dan berstatus menjadi pelacur? Lalu dimana Agama yang ia yakini ditaruh?


Nilai-nilai sosial, baik yang bersumber dari ajaran Agama maupun tradisi dapat menjadi faktor yang meminggirkan perempuan. Perempuan dapat terkonstruksi secara sosial sebagai mahkluk yang “tunduk”, “loyal”, “lembut”, “pasrah”, dan “mengabdi”, serta tempat yang dianggap sesuai dengan perempuan adalah rumah, peran yang harus diemban dan tidak boleh ditinggalkan adalah mengurus urusan-urusan rumah tangga. Pengingkaran terhadap watak dan posisi seperti itu dianggap melawan takdir.


Posisi perempuan dalam Agama sebagai pihak yang harus tunduk pada laki-laki banyak ditemukan dalam kitab-kitab klasik. Subordinasi perempaun dalam Islam misalnya, terdapat dalam kitab ‘Uqud al-Lujjayn tulisan ulama Nawawi al-Bantani, kitab kuning yang sering menjadi rujukan dalam pendidikan Agama di pesantren.


Pemosisian perempaun di masyarakat juga bisa dilihat dari simbol-simbol yang terbangun. Namun sistem simbol yang terkait dengan perempuan ternyata sangat rumit sehingga tidak dapat ditarik dengan segera ke dalam suatu keputusan tunggal. Ada kontradiski simbolik atau dinamika simbolisasi yang penting untuk dicermati.


Secara simbolik, perempuan mendapat tempat yang sangat terhormat di dalam imajinasi orang Indonesia. Misalnya, bumi Nusantara yang membentang dari Sabang sampai Merauke selain disebut tanah air, sering pula dijuli “Ibu Pertiwi”, seperti pada ungkapan: “Pahlawan kita telah gugur dan kembali kepada pangkuan Ibu pertiwi. Itu artinya bahwa nama perempuan sangat terhormat. Begitu juga dengan sebutan ibu kota, dan banyak hal lainnya yang menyebut nama ibu. Ada puisi dahsyat judulnya juga diberi nama Ibu.


Pada ranah dimistik juga terbangun image publik tentang perempuan sebagai sosok manusia yang harus dihormati, misalnya pada ungkapan yang bersumber dari ucapan Nabi Muhammad SAW: “Surga berada di telapak kaki Ibu”. Disini begitu besar keududukan seorang perempuan (Ibu) harus dihormati dibandingkan dengan seorang laki-laki (Ayah).


Hanya saja, seringkali simbolisasi (image) perempuan sering dimamfaatkan oleh seorang laki-laki untuk menena-bobokkan seorang perempuan untuk tidak berdaya. Image diatas dijadikan sebagai senjata untuk menenangkan perempuan agar supaya tidak membuat perlawanan terhadap tindakan yang dilakukan perempuan. Sehingga laki-laki merasa puas dengan segala tindakannya, termasuk mau poligami tidak menjadi halangan. Pada sisi yang lain, perempuan banyak (hanya) dijadikan sebagai objek pemuas nafsu hedonisme seks laki-laki. Dalam sejumlah penelitian (yang dilakukan peneliti) banyak ditemukan data sebagai sumber kajian atau penelitian tentang perempuan tentang suatu kondisi marjinalisasi terhadap perempuan.


Buku Agama Pelacur (Dramaturgi Transendental) karya Nur Syam ini, hendak menggambarkan suatu keadaan (fenomena) perempaun dalam suatu kondisi tertentu. Bagaimana Agama memandang, menyikapi dan memposisikan perempuan yang seringkali dijadikan sebagai subjek (tertuduh) sebagai sosok yang a moral karena perbuatannya – yang kata sebagian orang – telah keluar dari garis yang ditentukan oleh Agama, misalnya perempuan yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) dalam suatu lokalisasi.


Dalam penulisan buku ini, penulisnya menggunakan studi atau metode Dramaturgi. Studi ini dipakai untuk menjelaskan suatu identitas manusia, bahwa manusia tidak stabil dan merupakan setiap identitas manusia adalah bagian dari kejiwaan psikologi kemandirian individu. Studi ini menjelaskan bahwa identitas manusia bisa saja berubah-rubah sesuai dengan kondisi dan tergantung pada bagaimana ia melakukan interaksi dengan orang lain.


Kajian tentang Dramaturgi dikembangkan oleh seorang filosof dan literalis, Kenneth Duva Burkey. Dramaturgi dikenalkan untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan digunakan metode Dramaturgi oleh Nur Syam (penulis buku ini) adalah untuk menjelaskan bahwa hidup ini bukan seperti drama, tetapi hidup ini memang sebuah drama. Dengan demikian, untuk melihat kondisi sosial di masyarakat dibutuhkan pemahaman yang objektif. Tidak asal memberikan vonis itu salah dan yang ini benar, tetapi juga bisa memberikan solusi agar orang yang kita anggap keluar dari rel yang ditentukan bisa menemukan jalan dan tempat yang layak.


Melalui Dramaturgi, sehingga buku ini bisa menampilkan pentas (pertunjukan) tentang suatu kondisi prilaku perempuan dalam disebuah lokalisasi di Surabaya, misalnya di lokalisasi Jagir Wonokromo (hlm. 102), lokalisasi di Morseneng (hlm. 107), lokalisasi di Dolly (hlm. 113). Bagaimana seorang perempuan – yang oleh Agama diposisikan sebagai manusia terhormat bisa masuk dalam lokalisasi. Apa yang melatar belakanginya, bagaimana pengakuan (sesuai dengan hati nurani)-nya sebenarnya, serta bagaimana Agama menyikapi hal demikian? Untuk mengetahui lebih jauh, buku ini adalah jawabannya. Selamat membaca!



*Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya


DATA BUKU:

Judul Buku : Agama Pelacur (Dramaturgi Transendental)

Penulis : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

Penerbit : LKiS, Yogyakarta

Cetakan : I, Oktober 2010

Tebal : xviii+200 Halaman

08 Maret, 2010

Dongeng Yogyakarta tempo dulu

Oleh: Ach. Syaiful A'la*


Yogyakarta. Apa yang terlintas dibenak seseorang ketika mendengar kata Yogyakarta? Sebuah daerah yang telah berperadaban, masyarakatnya beretika, bermoral, sopan, halus dalam berbicara, budaya keraton, mempunyai kesenian dan kebudayaan yang tinggi, bahkan tak salah jika kini ada banyak orang menyebutnya sebagai daerah pendidikan (kota pelajar).


Ya kita pun mengamini dengan gelar tersebut, karena disana memang banyak perguruan tinggi berskala nasional hingga internasional, telah banyak mencetak sarjana, gudangnya ilmu pengetahuan, hampir disetiap kost/kontrakan ada penerbit dan percetakan buku, tempat seminar, diskusi, kajian keilmuan, peneliti, penulis dan lain sebagainya. Yogyakarta – biasa disebut Yogya – adalah tempat nyaman dan aman sebagai tempat pengembangan bakat diri (belajar).


Apa yang saya utarakan diatas, kalau pembaca hanya melihat Yogya pada saat sekarang ini. Bagaimana Yogyakarta masa silam? Terkadang kita lupa atau memang tidak tahu dengan beberapa peristiwa yang telah terjadi disana. Padahal sebuah peristiwa yang telah mendahuluinya akan membentuk suatu kondisi seperti saat sekarang. Misalnya disana ada sebuah peristiwa besar, Agresi Belanda pada tahun 1948-1949 ketika menggoncang kota Yogyakarta.


Buku Ditepi Takdir: Sebuah Novel Sejarah, Perjuangan dan Pendidikan setebal 255 halaman yang ditulis oleh Hj. Samsikin Abu Daldiri ini merupakan bukti sejarah (kisah nyata) dari peristiwa diatas. Isinya banyak mengupas tuntas tentang pengalaman dirinya pada sebuah kejadian yang sangat heroik tentang Agresi Belanda ketika menyerang kota Yogya. Buku ini ditulis dengan gaya kepenulisan bentuk cerita (novel), sehingga kehadirannya diruang pembaca akan menumbuhkan rasa simpati dan empati, seakan kita mengalami sendiri pada sebuah peristiwa seperti yang dirasakan oleh seorang diri Samsikin AD sebagai penulis.


Peristiwa Agresi Belanda di Yogyakarta – termasuk juga di daerah lainnya – merupakan rangkaian detik-detik yang amat mendebarkan dan sekaligus menghantui hidup orang banyak, termasuk penulis buku ini. Hj. Samsikin Abu Daldiri atau biasa disingkat dengan Samsikin AD, adalah seorang perempuan kelahiran desa Srandakan Kabupaten Bantul. Dalam usia tuanya, ia menyempatkan diri untuk menulis kisahnya pada masa silam disaat kota Yogya di goncang penjajah, sehingga menjadi sebuah karya yang menakjubkan dan gemilang di hadapan pembaca.


Dalam kisahnya, Samsikin menceritakan dalam buku ini – bahwa ini benar-benar terjadi yang dialaminya selama hampir tujuh bulan ketika tentara Belanda menduduki kota Yogya. Dia memulai menulis cerita dirinya ketika dalam pengungsian. Disaat tentara Belanda datang untuk menduduki kota Yogya, Samsikin yang masih berumur 13 tahun 4 bulan juga ikut diungsikan demi menjaga keselamatan warga sipil dari kekejaman serangkaian serangan tentara Belanda. Tempat yang dijadikan sebagai pengungsian bukan sebuah gedung atau tembok, tetapi adalah lubang, gelap, dan panas. Selama delapan jam dalam lubang pengungsian itu, ia hanya disuguhkan makan singkong. Sementara tiap orang hanya mendapat dua kerat singkong. Namun walaupun hanya dengan dua kerat singkon, ia pun tetap merasa kenyang (hlm. 37).


Suasana terus semakin menegangkan. Pesawat pengintai tentata Belanda terus mengitari area kota Yogya. Sehingga semua yang ada dalam pengungsian hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan untuk selalu diberi kekuatan bagi orang-orang yang akan membela, memperjuangkan dan mempertahakan Negara Republik Indonesia dari cengkaraman tangan penjajah. Semua dalam kecemasan, serba ketakutan, hidup sudah tidak bisa menikmati kebebasan, hidup dalam kepenjarahan, hidup dalam sebuah penderitaan, penuh siksaan dan dipekerja paksakan.


Siang, sekitar jam 11.00 hari Jumat legi tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Negara diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta di Jakarta. Semua orang berteriak “Merdeka… merdeka… kita sudah merdeka…! Hidup Bung Karno… Hidup Bung Hatta!”. Dari berbagai sudut kota di Yogya pun juga terdengar teriakan demkian dari orang banyak “merdeka”. Dihari yang bersejarah itu, semua orang, laki-laki dan perempuan, bapak-bapak dan ibu-ibu kesemuanya dikala berjumpa harus memekikan kata “merdeka” kalau tidak mau dicap sebagai mata-mata tentara Belanda (hlm. 122-123).


Samsikin sebagai bukti sejarah dalam cerita ini kini bisa tersenyum. Penjajah di bumi Indonesia khususnya di Yogyakarta telah tiada, kembali ke negaranya. Berubahlah semuanya. Langit Yogya mulai cerah, berbinar, sinar matahari mulai menembus dinding-dinding tebal untuk menerangi jagat raya, udara yang dingin dan sejuk menusuk badan untuk memberikan harapan besar bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sebagai warga Negara, Samsikin kini menikmati betapa bahagianya hidup tanpa penjajah. Bebas memilih pendidikan (sekolah), berpendapat, berekpresi, melakukan kreasi (menciptakan sebuah karya) kesemuanya adalah babakan yang amat menentukan nasib masa depannya.


Hanya saja, karena keterbatasan kemampuan diusia tuanya, masih banyak peristiwa penting di Yogyakarta pada saat kebiadaban tentara Belanda menduduki kota pelajar ini belum tercover dalam buku ini. Tetapi – minimal – buku ini cukup menjadi bacaan bagi angkatan penerus astafet perjuangan untuk negeri tercinta ini. Misalnya pembaca bisa meneladani penulis dikala ia dalam pengungsian, takut kepergok tentara Belanda, rintangan yang dihadapi, mengungsi lagi, hingga semangatnya yang tak pernah padam untuk terus menimba pendidikan.
Selamat membaca!


*Direktur Komunitas Baca Surabaya (KOMBAS)


DATA BUKU: (dimuat di Duta Masyarakat, 7/3/2010)
Judul Buku: Ditepi Takdir; Sebuah Novel Sejarah, Perjuangan dan Pendidikan
Penulis : Samsikin AD
Penerbit: Grafindo, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: 225 Halaman

03 November, 2009

Kesaktian para Kiai Sepuh

Ach. Syaiful A'la, S.Pd.I

Karomah – atau dalam bahasa Indonesia disebutnya sebagai keramat; adalah suatu peristiwa yang sulit diterima oleh akal pikiran manusia pada umunya. Akan tetapi karomah banyak dijumpai dalam berbagai literatur agama termasuk di luar agama Islam sendiri.


Tetapi karomah tidak sama dengan kekuatan linuwih yang dimiliki oleh orang yang fasik. Sebab meskipun orang fasik bisa juga melakukan keajaiban-keajabian sebagaimana karomah, yaitu orang yang dekat dengan Allah (shaleh). Namun kejabaiban yang dilakukan oleh orang fasik itu bukanlah karomah. Kejadian itu kita kenal dalam Islam dengan istilah istidraj, ada yang menyebutnya dengan al-makr (tipu daya) dan al-ihlak (pembinasaan) – kejadian yang luar biasa yang diberikan Allah kepada hambanya yang fasik alias kufur agar mereka bertambah kekufurannya alias bertambah sombong. Pekerjaan mereka banyak dibantu oleh iblis dan anak buahnya.


Berbeda dengan karomah. Karomah merupakan tanda kewalian seorang hamba Allah, sebagaimana mukjizat yang diberikan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai bukti tanda kenabian. (baca : perbedaan antara mukjizat, karomah, istijraj, sihir). Biasanya karomah tidak tampak – atau sengaja tidak ditampakkan oleh seorang hamba Allah – karena takut akan memutus perjalanan spiritual dirinya kepada Allah. Yang demikian itu banyak kita jumpai dibeberapa, terkadang diketahuinya bahwa seseorang mempunyai karomah kalau dia sudah tidak ada alias meninggal dunia. Ada juga yang langsung ditampak karena berkenaan dengan dakwah dimana mereka berhadapan sesuai dengan obyek dakwahnya.


Suatu contoh seorang kiai – sebut saja namanya kiai Hosa panggilan akrapnya KH Hosamuddin tinggal disebuah kampung namanya kampong Battangan terletak di Desa Gapura Timur Sumenep Madura, yang namanya tidak tersentuh dalam buku ini – dalam melakukan dakwah di Desa Candi (Dusun Gunung), beliau menampakkan ilmu kesaktian yang ada dirinya.


Konon, pernah suatu hari ada sebuah jam’iyah (kompolan, madura) di Desa Candi itu. Karena masyarakatnya masih minim akan ilmu-ilmu agama, ketika dalam acara jam’iyah yang selalu diperbincangkan tentang “carok” – adu ketangkasan dengan menggunakan alat yang namanya arek (madura : latting, sade’, caloret, busri, pengerrat dan lain-lain). Sehingga banyak jamaah tidak mendengarkan isi ceramah dari kiai Hosa. Alkisah, dari salah satu anggota jam’iyah yang dipimpin kiai Hosa di Desa setempat, suatu ketika usai acara, sang kiai – memang dengan sengaja – meletakkan koreknya (coret, madura) dibawah daun pisang (daun sisa bungkus makanan yang disajikan tuan rumah untuk jamaah, di madura makanan itu disebut dengan pes-paes atau leppet) kemudian kiai pamit dan pergi meninggalkan acara.


Tidak jauh dari tempat acara, sekitar + 100 m kiai Hosa pura-pura memanggil minta tolong kepada seseorang yang masih ada didalam tempat perkumpulan tadi bahwa koreknya ketinggalan di tempat dimana ia duduk. Setelah dicari-cari oleh jamaah ternyata korek itu berada dibawah daun pisang sisa bungkus suguhan yang disajikan ke pak kiai. Yang aneh pada waktu itu, semua orang (laki-laki) yang ada dalam perkumpulan, tidak satu pun yang bisa mengangkat korek pak kiai – terasa berat untuk mengangkatnya.. Dengan kejadian itu tadi, akhirnya masyarakat percaya dan taat bahwa kiai Hosamuddin mempunyai kemampuan (karomah) yang luar biasa. Sehingga dalam melakukan dakwah agama selanjutnya meresa gampang menyampaikan pesan-pesan moral agama kepada masyarakat berkah karomah yang ditampakkan secara terang-terang di khalayak umum.


Contoh lain misalnya karomah yang dimiliki kiai As’ad. Beberapa tahun silam Nahdlatul Ulama (NU) mengadakan muktamar ditempatkan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo. Muktamar itu akan dihadiri oleh Presiden Soeharto untuk membuka acara. Karena musim kemarau (panas), maka tempat landas (lapangan) helikopter presiden beserta rombongan dikhawatirkan berdebu akhirnya dinas terkait di kabupaten setempat menyiram lapangan agar tidak berdebu. Tidak lama setelah pekerjaan berlangsung, tiba-tiba kiai As’ad muncul dan minta untuk dihentikan penyiramannya karena hanya membuang-buang anggaran daerah. Kiai As’ad bilang bahwa hujan sebentar lagi akan turun – padahal musim kemarau. Tidak lama setelah kiai As’ad pulang dari lapangan ternyata benar mulai ada gerimis bahkan sampai hujan lebat membasahi area lapangan. Anehnya dari kejadian diatas, ditempat lain tidak ada yang hujan alias kering, yang ada hujan hanya di lapangan tadi (hlm. 19-25).


Itulah baru sekilas cerita dari kiai kampung pengasuh pesantren, dan masih banyak karomah-karomah kiai-kiai lainnya yang sengaja ditampakkan atau tidak ditampakkan di masyarakat. Misalnya di dunia pesantren (NU) ada yang namanya kiai Kholil Bangkalan, kiai Imam Nawawi, kiai Hasyim Asy’ari, kiai Usymuni Tarate, kiai Syarqawi Guluk-guluk, kiai Ali Brambang dengan karomahnya bisa ngajari kera ngaji Al-Qur’an hingga beberapa ayat dan masih banyak kiai-kiai NU dan pesantren lainnya yang tidak bisa disebutkan semua namanya disini yang telah mempunyai karomah luar biasa karena kedekatannya kepada Allah sehingga dengan karomahnya telah banyak memberikan pencerahan dan bimbingan pada masyarakat.


Dalam Al-Qur’an banyak sekali yang ayat mengisahkan kejadian yang sulit diterima oleh akal. Tetapi peristiwa itu memang telah terjadi. Lihathah seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an : ashabul kahfi, sekompok pemuda sufi yang tertidur nyenyak dalam jangka waktu ratusan tahun dalam goa, Nabi Ibrahim yang dibakar oleh raja Namrud, kemudian keluar dari kobaran tanpa ada sedikit cacat dari anggota tubuhnya, Nabi Musa hanya dengan sepotong kayu (tongkat) bisa membelah laut, kemudian laut menjadi lorong hingga akhirnya dirinya selamat dari kejaran raja Fir’un, kemudian raja Fir’un berserta bala tentaranya ditenggelam di laut merah ketiga mengejar sang kekasih Allah (khalilullah) karena air kembali merapat setelah Nabi Musa dengan pengikutnya sampai di daratan, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang luar biasa (khawariqul adat) lainnya yang kita temukan dalam Al-Qur’an. Kelebihan-kelebihan (karomah) yang diberikan Allah kepada seorang wali (orang yang dekat dengan-Nya) tiada lain hanya untuk memantapkan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah.


Buku ini hadir diruangan pembaca tiada lain untuk mengisahkan beberapa karomah yang dimiliki oleh para kiai yang ada di (lokal) Indonesia, khususnya didunia pesantren. Buku ini berisi sebanyak 77 kisah (nyata, sudah terjadi dan terbukti ada kebenarannya) karomah kiai asli indonesia. Dan kisah-kisah yang ada dalam buku ini telah terkuak dimasyarakat bahkan diluar pesantren; kisah-kisah yang belum bertuliskan dalam selembar buku dan hanya berkembang dari mulut kemulut.

Selamat membaca!


*) Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya


DATA BUKU:
Judul Buku : Karomah Para Kiai
Penulis : Samsul Munir Amir
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xx+348 Halaman

30 Oktober, 2009

Humanisasi Pendidikan Islam

Ach. Syaiful A’la, S.Pd.I*

Di dalam ajaran Islam ada tiga aspek terpenting, yang terkait antara satu sama lain. Baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara tersurat maupun yang tersirat. Secara sadar mahupun tidak sadar. Yaitu pendidikan akidah, syariat dan tasawuf atau akhlak. Siapa yang ingin beragama Islam atau siapa saja yang ingin melaksanakan ajaran Islam di dalam kehidupan, wajib mempelajari ketiga aspek atau bagian yang ada di dalam ajaran Islam ini. Wajib dipelajari ilmunya, diyakini, dihayati dan juga diamalkan.


Kalau satu aspek saja kita terima tetapi meninggalkan aspek-aspek yang lain, ia timpang. Katakanlah kita pelajari akidahnya saja serta diyakini dengan meninggalkan aspek-aspek yang lain, seolah-olah Islam itu hanyalah agama ketuhanan. Kalau syariatnya saja yang kita terima dan menolak pula aspek-aspek yang lain, Islam itu sudah seolah-olah seperti ajaran ideologi. Manakala kalau akhlaknya saja diterima dengan meninggalkan kedua aspek diatas, seolah-olah Islam hanya ajaran etika di dalam pergaulan atau etika kerja. Agama Islam tidak dapat diterima atau dipelajari di satu-satu aspek saja, tetapi kesemua aspeknya. Jika ketiga aspek berjalan seimbang, barulah lengkap, sempurna, indah, berguna, dapat dilihat keagungan dan kebesaran Allah, berlaku keharmonisan, keamanan, kedamaian yang memang diidamkan oleh manusia.


Terjadinya berbagai macam persoalan yang sangat kompleks saat dihadapi bangsa ini, serta berbagai krisis yang berkepanjangan baik yang berkaitan dengan persoalan politik, ekonomi, pendidikan dan sosial, sebenarnya kalau mau jujur dan dengan jernih kita melihatnya semuanya adalah persoalan moral. Ketika para pemangku jabatan kita dilihat sudah tidak bermoral (amoral) maka yang akan timbul adalah persoalan disana-sini karena kebijakan yang diambil hanya merupakan kepentingan sesaat dan cenderung kepentingan pribadi alias mementingkan kelompoknya faqot (status quo).


Upaya untuk terlepas dari persoalan ini (amoral) sebenarnya yang harus menjadi garapan utama bagi kita bangsa Indonesia untuk menuju al ummah al badaniyah sebagaimana yang dicita-citakan oleh Nabi Muhammad SAW, salah satu cara yang bisa diambil adalah dengan memberikan pelajaran-pelajaran tentang akhlak (pendidikan moral) yang baik dalam dunia pendidikan.


Kenapa harus pendidikan yang ambil bagian dalam masalah ini? Dalam pendidikan adalah terjadi adanya proses transformasi nilai-nilai dari pendidik kepada peserta didik. Meminjam istilah Paulo Prairie, pendidikan adalah memanusiakan manusia. Artinya, apa yang diimpikan oleh Paulo semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat kepedulian sosial seseorang kepada sesama, simpatik, dan merasa satu anggota tubuh yang lain merasakan sakit atau menderita (empatik).


Tetapi saat ini proses pendidikan belum mampu menjawab semua itu. Beberapa tahun terakhir ini, perbincangan pendidikan hanya menyangkut pada anggaran yang kurang memadai 20%. Keadaan itu mengakibatkan gaji guru rendah, sarana dan prasarana pendidikan kurang memadai, lingkungan tidak tertata, sehingga hasil pendidikan kurang memuaskan.


Belum lagi persoalan lainnya, hasil ujian (UN) dikaitkan dengan prestasi pemerintah daerah, sehingga berakibat melahirkan penyimpangan, pendidikan kemudian sebatas mengejar target yang ditetapkan. Maka jujur saja, sedikit sekali perbincangan pendidikan yang lebih menyentuh aspek substantif, yaitu membangun pendidikan hingga mengantarkan anak bangsa ini meraih keunggulan (insan kamil), yaitu unggul dalam ilmu pengetahuan, jiwa dan mentalnya, unggul cita-citanya, unggul watak dan perilakunya, unggul keberaniannya, unggul sifat kepemimpinannya, dan unggul akhlaqnya.


Buku Ilmu Pendidikan Islam; Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat karya Dr. Moh. Roqib ini, berupaya menjawab segala persoalan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam perspektif Islam, disaat kita (bangsa Indonesia) lagi pusing dalam hal pencarian jati diri masing-masing. Didalam buku ini, pembaca pula akan diajak jalan-jalan mengarungi guna melihat kembali bagaimana pendidikan Islam membentuk insan kamil.


Salah satu tujuan pendidikan Islam adalah humanisasi serta menanamkan akhlak (tasawuf) pada peserta didik. Tasawuf adalah ilmu rasa (zauk). Ia adalah perasaan-perasaan yang timbul di dalam hati orang yang beriman atau orang yang bertaqwa, yang bersifat terpuji (mahmudah). Orang yang selalu menuruti kemauan (suara) hati dalam hidupnya, maka akan selamat. Karena suara hati tidak pernah berbohong. Misalnya, ketika seseorang melakukan sesuatu yang amoral, maka pasti terdetik dalam hatinya bahwa hal itu adalah perbuatan munkar (keji) yang dilarang oleh Agama (hal. 31).


Sifat terpuji (akhlaq mahmudah) yang menempel pada diri seseorang akan mencerminkan contoh sikap seperti rasa hamba, rasa merendah diri, rasa malu, rasa kasih, rasa bertimbang rasa, rasa simpati, rasa tawakal, rasa sabar, rasa redha, rasa pemurah, rasa kasihan, rasa pemaaf, rasa meminta maaf dan rasa cinta. Dari rasa-rasa tadi, ia mendorong manusia bertindak atau melahirkan rasa-rasa positif diatas. Maka lahirlah buahnya di dalam kehidupan, yang dapat dilihat oleh mata yaitu akhlaq mulia (akhlaq al-karimah). Dapat dilihat seseorang itu pemurah, merendah diri, tenang, menolong orang, mengasihi orang, memberi maaf, meminta maaf dan hal inilah yang menjadi cita-cita pendidikan Islam.


*) Direktur Komunitas Baca Suarabaya (KOMBAS)


DATA BUKU
Judul Buku : Ilmu Pendidikan Islam; Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat
Penulis : Dr. Moh. Roqib, M.Ag
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Juni 2009
Tebal : xvi+256

22 April, 2009

Fatwa Kiai Jampes Vs MUI

Oleh : Ach. Syaiful A'la

Kurang lebih setengah tahun yang lalu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengundang beberapa pondok pesantren yang ada di Jawa Timur. Kebetulan Saya menjadi peserta mewakili salah satu pesantren di Surabaya. Kegiatan itu bertujuan untuk memberikan penyuluhan bahanya merokok kepada para kiai sebagai pemimpin juga pada santri sebagai pelajar guna terciptanya lingkungan masyarakat pondok pesantren yang bebas rokok. Disamping kegiatan itu diperkuat dengan landasan hukum undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, undang-undang nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, peraturan pemerintah ri nomor 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara.

Acara yang memakan waktu hampir satu hari itu, isinya tiada lain ialah untuk memberikan pengertian kepada masyarakat pondok pesantren tentang bahaya rokok. Yang bertindak menjadi pembicara pada saat itu, langsung perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Disana dijelaskan :

Pertama, tentang merokok dan kehamilan. Beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang rokok dan kehamilan sebagian besar berhubungam dengan kerja nikotin dan hidrokarbon polisiklik (benzopiren) yang dapat mencapai janin. Bahwa merokok sigaret selama kehamilan dapat mengurangi bobot lahir bayi, mengurangi bobot lahir bayi, meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran spontan, nikotin dapat memasuki asi (air susu ibu) yang sedang menyusui walaupun pengaruhnya pada bayi yang menyusu belum jelas. Karena asap rokok mengandung lebih dari 4000 zat kimia 1200 diantaranya bahan kimia beracun dan 43 karsinogenik.

Kedua, akibat merokok bagi kesehatan akan menyebabkan penyakit jantung pada seseorang. Secara garis besar bahwa rokok tembakau berhubungan dengan penyakit jantung melalui: meningkatkan denyut jantung, meningkatkan vasokontriksi periferal yang menyebabkan naiknya tekanan darah, melepaskan asam lemak dari tempat penyimpanan adiposa, sehingga peredaran lemak bebas darah meningkat yang menyebabkan arteriosclerosis, mengurangi waktu pembekuan darah, mengurangi pengangkutan oksigen ke dalam jaringan melalui kompetisi dengan kandungan CO dalam darah.

Ketiga, kanker paru-paru. Karena tar sigaret/partikel yang ada dalam asap rokok secara reguler melewati saluran pernapasan, dengan pelahan menyebabkan kelainan pada sel-sel saluran pernapasan sehingga modifikasi sel menjadi sel kanker.

Keempat, emphysema. Penyakit ini ditandai dengan runtuhnya dinding alveoli (kantong udara) sehingga mengurangi luas permukaan tempat terjadinya pertukaran udara di paru-paru, kantong udara kehilangan elastisitasnya sehingga kesukaran menghirup udara dan mengalami kesulitas bernapas.

Kelima, bronkhitis khronik. Penyakit ini pula ditandai dengan produksi dahak yang berlebihan, peradangan dan sekresi berlebihan dari sel-sel bronkhi meningkatkan dahak disertai dengan batuk untuk mengeluarkan sekretnya.

Ada yang menarik dalam acara tersebut. Setelah pemateri selesai menjelaskan semua materi bahaya tentang bahaya rokok, dengan sedikit memaksa kepada peserta, akhirnya pemateri membuat suatu keputusan ditandai dengan mengetuk palu (layaknya hakim memutuskan masalah) “…bahwa mulai saat ini, kita menyatakan berhenti merokok”. Tiba-tiba muncul dari salah satu peserta delegasi pondok pesantren (ustadz) melakukan intrupsi dan memberi tanggapan. “Kenapa Saya dilarang merokok?” Sambil melanjutkan pembicaraannya, ia berkata “Justru dengan sebatang rokok, secangkir kopi, Saya jauh lebih produktif dan banyak menghasilkan karya tulis, seperti menulis buku (kitab), opini atau mengonsep rencana-rencana kegiatan pesantren”.

Kontroversi Fatwa MUI
Akhir Januari 2009, Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan kongres yang ditempatkan di Padang Panjang, Sumatera Barat. Salah satu hasil keputusannya adalah fatwa tentang hukum haramnya merokok bagi anak-anak, wanita hamil, dan pengurus MUI sendiri.

Tetapi akhirnya keputusan tersebut tidak berjalan mulus. Banyak terjadi kontroversi disana-sini, termasuk oleh kalangan kiai-kiai pondok pesantren sendiri. Bahkan Nahdlatul Ulama (NU), yang merupakan rumah besar para kiai juga tidak memberikan lampu hijau (green lamp) adanya fatwa MUI tentang rokok.

Kalau kita mengaca kepada sejarah (plash black), adanya kontroversi para ulama tentang hukum mengonsumsi kopi dan rokoh sudah sejak abad ke-10 H. Bahkan Syaikh Ihsan, kiai asal Jampes, Kediri, Jawa Timur, melalui kitabnya Irsyadu al-Ikhwan fi Bayani al-Hukm al-Qohwah wa al-Dhukhon, yang diterjemahkan menjadi Kitab Kopi dan Rokok ini telah banyak mengupas hukum mengonsumsi kopi dan rokok. Adanya kontroversi tentang kopi dan rokok selalu menjadi pertentangan dan tak menemukan titik temu (kalimatun sawa’). Kelompok satu berpendapat bahwa rokok itu menyegarkan, mendatangkan inspirasi, menumbuhkan semangat berjuang, bekerja dan lebih tahan beribadah. Satu kelompok yang lain (kontra) menjelaskan, bahwa rokok membuat penyakit, bau, polusi dan merupakan pekerjaan yang sia-sia (mubadzir alias isyraf).

Buku ini menarik dibaca ditengah orang masih kebingungan untuk memilih setelah fatwa MUI tentang hukum rokok. Buku yang ada ditangan pembaca ini, memberikan jawaban atas isu yang hingga kini masih memanas di tanah air. Buku ini hanyalah satu-satunya yang membahas tentang kopi dan rokok. Menariknya kiai Ihsan Jampes dalam menjawab persoalan ini tidak menggurui. Kiai Jempes lebih memberikan beberapa pertimbangan dan pilihan hukum mengonsumsinya. Terakhir didalam buku ini pula disajikan asal-usul rokok serta perkembangannya di Timur Tengah, Eropa, Amerika, bahkan sampai di Indonesia.


Data Buku
Judul buku : Kitab Kopi dan Rokok
Judul Asli : Irsyadu al-Ikhwan fi Bayani al-Hukm al-Qohwah wa al-Dhukhon
Penulis : Syaikh Ihsan Jampes
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : 1, Februari 2009
Tebal : xxv + 110 halaman
Peresensi : Ach. Syaiful A’la*