Ach. Syaiful A'la, S.Pd.I
Karomah – atau dalam bahasa Indonesia disebutnya sebagai keramat; adalah suatu peristiwa yang sulit diterima oleh akal pikiran manusia pada umunya. Akan tetapi karomah banyak dijumpai dalam berbagai literatur agama termasuk di luar agama Islam sendiri.
Tetapi karomah tidak sama dengan kekuatan linuwih yang dimiliki oleh orang yang fasik. Sebab meskipun orang fasik bisa juga melakukan keajaiban-keajabian sebagaimana karomah, yaitu orang yang dekat dengan Allah (shaleh). Namun kejabaiban yang dilakukan oleh orang fasik itu bukanlah karomah. Kejadian itu kita kenal dalam Islam dengan istilah istidraj, ada yang menyebutnya dengan al-makr (tipu daya) dan al-ihlak (pembinasaan) – kejadian yang luar biasa yang diberikan Allah kepada hambanya yang fasik alias kufur agar mereka bertambah kekufurannya alias bertambah sombong. Pekerjaan mereka banyak dibantu oleh iblis dan anak buahnya.
Berbeda dengan karomah. Karomah merupakan tanda kewalian seorang hamba Allah, sebagaimana mukjizat yang diberikan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai bukti tanda kenabian. (baca : perbedaan antara mukjizat, karomah, istijraj, sihir). Biasanya karomah tidak tampak – atau sengaja tidak ditampakkan oleh seorang hamba Allah – karena takut akan memutus perjalanan spiritual dirinya kepada Allah. Yang demikian itu banyak kita jumpai dibeberapa, terkadang diketahuinya bahwa seseorang mempunyai karomah kalau dia sudah tidak ada alias meninggal dunia. Ada juga yang langsung ditampak karena berkenaan dengan dakwah dimana mereka berhadapan sesuai dengan obyek dakwahnya.
Suatu contoh seorang kiai – sebut saja namanya kiai Hosa panggilan akrapnya KH Hosamuddin tinggal disebuah kampung namanya kampong Battangan terletak di Desa Gapura Timur Sumenep Madura, yang namanya tidak tersentuh dalam buku ini – dalam melakukan dakwah di Desa Candi (Dusun Gunung), beliau menampakkan ilmu kesaktian yang ada dirinya.
Konon, pernah suatu hari ada sebuah jam’iyah (kompolan, madura) di Desa Candi itu. Karena masyarakatnya masih minim akan ilmu-ilmu agama, ketika dalam acara jam’iyah yang selalu diperbincangkan tentang “carok” – adu ketangkasan dengan menggunakan alat yang namanya arek (madura : latting, sade’, caloret, busri, pengerrat dan lain-lain). Sehingga banyak jamaah tidak mendengarkan isi ceramah dari kiai Hosa. Alkisah, dari salah satu anggota jam’iyah yang dipimpin kiai Hosa di Desa setempat, suatu ketika usai acara, sang kiai – memang dengan sengaja – meletakkan koreknya (coret, madura) dibawah daun pisang (daun sisa bungkus makanan yang disajikan tuan rumah untuk jamaah, di madura makanan itu disebut dengan pes-paes atau leppet) kemudian kiai pamit dan pergi meninggalkan acara.
Tidak jauh dari tempat acara, sekitar + 100 m kiai Hosa pura-pura memanggil minta tolong kepada seseorang yang masih ada didalam tempat perkumpulan tadi bahwa koreknya ketinggalan di tempat dimana ia duduk. Setelah dicari-cari oleh jamaah ternyata korek itu berada dibawah daun pisang sisa bungkus suguhan yang disajikan ke pak kiai. Yang aneh pada waktu itu, semua orang (laki-laki) yang ada dalam perkumpulan, tidak satu pun yang bisa mengangkat korek pak kiai – terasa berat untuk mengangkatnya.. Dengan kejadian itu tadi, akhirnya masyarakat percaya dan taat bahwa kiai Hosamuddin mempunyai kemampuan (karomah) yang luar biasa. Sehingga dalam melakukan dakwah agama selanjutnya meresa gampang menyampaikan pesan-pesan moral agama kepada masyarakat berkah karomah yang ditampakkan secara terang-terang di khalayak umum.
Contoh lain misalnya karomah yang dimiliki kiai As’ad. Beberapa tahun silam Nahdlatul Ulama (NU) mengadakan muktamar ditempatkan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo. Muktamar itu akan dihadiri oleh Presiden Soeharto untuk membuka acara. Karena musim kemarau (panas), maka tempat landas (lapangan) helikopter presiden beserta rombongan dikhawatirkan berdebu akhirnya dinas terkait di kabupaten setempat menyiram lapangan agar tidak berdebu. Tidak lama setelah pekerjaan berlangsung, tiba-tiba kiai As’ad muncul dan minta untuk dihentikan penyiramannya karena hanya membuang-buang anggaran daerah. Kiai As’ad bilang bahwa hujan sebentar lagi akan turun – padahal musim kemarau. Tidak lama setelah kiai As’ad pulang dari lapangan ternyata benar mulai ada gerimis bahkan sampai hujan lebat membasahi area lapangan. Anehnya dari kejadian diatas, ditempat lain tidak ada yang hujan alias kering, yang ada hujan hanya di lapangan tadi (hlm. 19-25).
Itulah baru sekilas cerita dari kiai kampung pengasuh pesantren, dan masih banyak karomah-karomah kiai-kiai lainnya yang sengaja ditampakkan atau tidak ditampakkan di masyarakat. Misalnya di dunia pesantren (NU) ada yang namanya kiai Kholil Bangkalan, kiai Imam Nawawi, kiai Hasyim Asy’ari, kiai Usymuni Tarate, kiai Syarqawi Guluk-guluk, kiai Ali Brambang dengan karomahnya bisa ngajari kera ngaji Al-Qur’an hingga beberapa ayat dan masih banyak kiai-kiai NU dan pesantren lainnya yang tidak bisa disebutkan semua namanya disini yang telah mempunyai karomah luar biasa karena kedekatannya kepada Allah sehingga dengan karomahnya telah banyak memberikan pencerahan dan bimbingan pada masyarakat.
Dalam Al-Qur’an banyak sekali yang ayat mengisahkan kejadian yang sulit diterima oleh akal. Tetapi peristiwa itu memang telah terjadi. Lihathah seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an : ashabul kahfi, sekompok pemuda sufi yang tertidur nyenyak dalam jangka waktu ratusan tahun dalam goa, Nabi Ibrahim yang dibakar oleh raja Namrud, kemudian keluar dari kobaran tanpa ada sedikit cacat dari anggota tubuhnya, Nabi Musa hanya dengan sepotong kayu (tongkat) bisa membelah laut, kemudian laut menjadi lorong hingga akhirnya dirinya selamat dari kejaran raja Fir’un, kemudian raja Fir’un berserta bala tentaranya ditenggelam di laut merah ketiga mengejar sang kekasih Allah (khalilullah) karena air kembali merapat setelah Nabi Musa dengan pengikutnya sampai di daratan, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang luar biasa (khawariqul adat) lainnya yang kita temukan dalam Al-Qur’an. Kelebihan-kelebihan (karomah) yang diberikan Allah kepada seorang wali (orang yang dekat dengan-Nya) tiada lain hanya untuk memantapkan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah.
Buku ini hadir diruangan pembaca tiada lain untuk mengisahkan beberapa karomah yang dimiliki oleh para kiai yang ada di (lokal) Indonesia, khususnya didunia pesantren. Buku ini berisi sebanyak 77 kisah (nyata, sudah terjadi dan terbukti ada kebenarannya) karomah kiai asli indonesia. Dan kisah-kisah yang ada dalam buku ini telah terkuak dimasyarakat bahkan diluar pesantren; kisah-kisah yang belum bertuliskan dalam selembar buku dan hanya berkembang dari mulut kemulut.
Selamat membaca!
*) Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya
DATA BUKU:
Judul Buku : Karomah Para Kiai
Penulis : Samsul Munir Amir
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xx+348 Halaman
Tampilkan postingan dengan label mukjizat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mukjizat. Tampilkan semua postingan
03 November, 2009
06 Agustus, 2009
Keistimewaan Shalat Hajat & Dhuha
Oleh : Ach. Syaiful A'la
Dalam arti yang cukup sederhana, definisi shalat bisa diartikan sebagai berikut: Shalat adalah ibadah yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Tak terkecuali apakah shalat wajib (duhur, asar, maghrib, isya’ dan subuh) atau shalat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah seperti shalat sunnah istikharah, tahajjud, hajat, dhuha dan lain-lain.
Ketika seseorang akan melaksanakan shalat, maka diwajibkan terlebih dahulu untuk mengambil wudlu’. Dalam sebuah kitab disebutkan bahwa wudlu’ adalah nur – al wudlhuu nur – (cahaya). Orang yang selesai mengambil wudlu’ akan memiliki aura, wajah yang berseri-seri di hadapan Allah baik di dunia atau di akhirat begitu juga akan tampak di mata manusia.
Kenapa seseorang yang akan melaksanakan shalat diwajibkan untuk mengambil wudlu’ terlebih duhulu? Karena shalat merupakan terminal raga dan kebutuhan jiwa manusia untuk menuju Sang Khaliq. Shalat adalah merupakan cahaya yang berkilauan dalam hati orang yang beriman, yang memancarkan sinar pada wajahnya dan tercermin dalam tingkah dalam kehidupan sehari-hari. Shalat sebagai alat komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah. Maka sangat tepat sekali jika seseorang akan minta sesuatu apa saja, lebih tepatnya dengan melakukan shalat. Shalat wajib atau sunnah.
Orang yang melakukan shalat sunnat, baik itu shalat hajat, shalat dhuha atau shalat tahajjud akan memetik buah dari beberapa keistimewaan yang ada. Misalnya orang yang melaksanakan shalat tahajud hasilnya bisa dibuktikan dengan janji dalam Al-Qur’an bahwa “Barangsiapa yang melaksanakan shalat sunnah (tahajjud) pada waktu sepertiga malam, maka Allah berjanji akan menempatkan orang – yang melakukan shalat tahajjud – itu pada tempat yang sangat mulai, maqamam mahmudah.
Dalam logika kita, kalau dalam pandangan Tuhan sudah ada pada tempat yang mulia (maqamam mahmudah), secara otomatis di mata manusia derajatnya akan lebih mulia. Bisa kita tilik beberapa prestasi yang telah dicapai oleh orang-orang yang mencoba untuk membuktikan janji Allah yang dalam Al-Qur’an. Yakni Prof Muhammad Saleh dengan bukunya Terapi Tahajjud atau bukunya penulis buku ini yang Berjudul Mukjizat Tahajjud dan Subuh dan masih banyak contoh-contoh lain yang sukses melalui terapi lewat shalat.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan, dan kebutuhan-kebutuhan itu tidak (pernah) ada habisnya. Bahkan setiap hari kebutuhan seseorang semakin bertambah dan tidak bisa dihentikan, kecuali oleh kematian. Oleh sebab itulah ketika kita membutuhkan sesutau, shalat di sini akan memainkan perannya. Maka laksanakanlah shalat-shalat sunnah (tanpa harus mengesampingkan kecintaannya pada shalat fardu yang lima waktu) sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Misalnya ketika seseorang bingung dalam memilih sesuatu untuk dilaksanakan –ada dua pilihan sama-sama menjadi pilihan– seperti mau lamar pekerjaan, memilih jodoh, atau yang lain-lainnya, maka dianjurkan untuk shalat istikhara; memohon kepada Allah untuk ditunjukkan mana yang terbaik. Kemudian merasa Anda banyak berbuat dosa, banyak melakukan hal yang dilarang oleh agama –selama kesalahan yang diperbuat tidak ada kaitannya dengan sesama manusia– maka shalatlah taubat; minta ampunan kepada Allah atas segala dosa yang diperbuatnya. Ada juga ketika mereka terkena musibah yang berupa kesulitan dalam memperoleh makanan disebabkan oleh kekeringan disebabkan oleh lamanya tidak ada hujan, maka laksanakanlah shalat istisqa’; minta kepada Allah cucuran air hujan dari langit untuk membasahi bumi.
Mukjizat Dhuha
Kalau kita amati disekitar kita, setiap pagi setiap orang di dunia disibukkan dengan usaha, aktivitas dan urusannya masing-masing. Entah itu bekerja di kantor yang jadi pegawai, ngajar disekolah yang berprofesi jadi guru, mencari penungpang yang jadi sopir atau becak, mencari berita bagi yang jadi wartawan, menaiki perahu bagi yang nelayan dan pergi kesawah sambil membawa cangkul bagi yang pekerjaannya hidupnya sebagai petani, ada yang ke pasar, ke took dan lain sebagainya. Semua itu adalah pekerjaan yang baik karena mau bekerja dan berkarya. Karena kalau kita baca sejarah, semua para Nabi bekerja keras. Tidak ada Nabi yang kerjanya hanya menunggu keajaiban rezeki yang datang dari langit. Tetapi ditengah kesibukannya – sebelum memulai usahanya – para utusan Allah itu melakukan permohonan kepada Allah untuk dilancarkan usahanya. Seperti melakukan shalat dhuha atau yang lainnya.
Waktu dhuha adalah waktu yang penuh dengan fadhilah, terutama untuk mengawali aktivitas, baik yang bersifat duniawi (bisnis) atau yang bersifat ukhrawi. Kenapa disebut waktu yang penuh fadilah? Karena saat itu manusia sibuk dengan usuhanya sendiri-sendiri dan terkadang lupa akan Tuhannya, sepertinya yang mereka lakukan adalah hasil jerih usuhanya sendiri. Mereka banyak yang lupa bahwa rezeki yang ia dapatkan adalah datang dan merupakan anugerah (memberian) dari Allah.
Sampai saat ini, shalat dhuha dikenal oleh banyak orang sebagai salah satu shalat untuk melancarkan rezeki dan bisa memperpanjang umur. Tidak sedikit orang yang sukses di dunia ini yang keluar dari (madrasah) shalat dhuha dan shalat sunnah lain seperti tahajjud. Karena Rasulullah menganjurkan bagi pengikutnya sebelum melakukan aktivitas seharus shalat dhuha terlebih dahulu. Shalat dhuha menjadi pintu awal untuk kesuksesan seseorang dalam aktivitasnya. Karena dhuha merupakan media untuk minta sesuatu kepada Sang Rahman dan Sang Rahim.
Buku ini penting dibaca karena akan banyak membantu para pembaca dalam melakukan revolusi mendasar pada setiap diri, keluarga dan masyarakat pada umumnya.
Selamat membaca!
DATA BUKU
Judul Buku : Mukjizat Shalat Hajat dan Dhuha
Penulis : Yusni Amru Ghazali
Penerbit : Grafindo, Jakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 210 Halaman
Dalam arti yang cukup sederhana, definisi shalat bisa diartikan sebagai berikut: Shalat adalah ibadah yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Tak terkecuali apakah shalat wajib (duhur, asar, maghrib, isya’ dan subuh) atau shalat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah seperti shalat sunnah istikharah, tahajjud, hajat, dhuha dan lain-lain.
Ketika seseorang akan melaksanakan shalat, maka diwajibkan terlebih dahulu untuk mengambil wudlu’. Dalam sebuah kitab disebutkan bahwa wudlu’ adalah nur – al wudlhuu nur – (cahaya). Orang yang selesai mengambil wudlu’ akan memiliki aura, wajah yang berseri-seri di hadapan Allah baik di dunia atau di akhirat begitu juga akan tampak di mata manusia.
Kenapa seseorang yang akan melaksanakan shalat diwajibkan untuk mengambil wudlu’ terlebih duhulu? Karena shalat merupakan terminal raga dan kebutuhan jiwa manusia untuk menuju Sang Khaliq. Shalat adalah merupakan cahaya yang berkilauan dalam hati orang yang beriman, yang memancarkan sinar pada wajahnya dan tercermin dalam tingkah dalam kehidupan sehari-hari. Shalat sebagai alat komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah. Maka sangat tepat sekali jika seseorang akan minta sesuatu apa saja, lebih tepatnya dengan melakukan shalat. Shalat wajib atau sunnah.
Orang yang melakukan shalat sunnat, baik itu shalat hajat, shalat dhuha atau shalat tahajjud akan memetik buah dari beberapa keistimewaan yang ada. Misalnya orang yang melaksanakan shalat tahajud hasilnya bisa dibuktikan dengan janji dalam Al-Qur’an bahwa “Barangsiapa yang melaksanakan shalat sunnah (tahajjud) pada waktu sepertiga malam, maka Allah berjanji akan menempatkan orang – yang melakukan shalat tahajjud – itu pada tempat yang sangat mulai, maqamam mahmudah.
Dalam logika kita, kalau dalam pandangan Tuhan sudah ada pada tempat yang mulia (maqamam mahmudah), secara otomatis di mata manusia derajatnya akan lebih mulia. Bisa kita tilik beberapa prestasi yang telah dicapai oleh orang-orang yang mencoba untuk membuktikan janji Allah yang dalam Al-Qur’an. Yakni Prof Muhammad Saleh dengan bukunya Terapi Tahajjud atau bukunya penulis buku ini yang Berjudul Mukjizat Tahajjud dan Subuh dan masih banyak contoh-contoh lain yang sukses melalui terapi lewat shalat.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan, dan kebutuhan-kebutuhan itu tidak (pernah) ada habisnya. Bahkan setiap hari kebutuhan seseorang semakin bertambah dan tidak bisa dihentikan, kecuali oleh kematian. Oleh sebab itulah ketika kita membutuhkan sesutau, shalat di sini akan memainkan perannya. Maka laksanakanlah shalat-shalat sunnah (tanpa harus mengesampingkan kecintaannya pada shalat fardu yang lima waktu) sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Misalnya ketika seseorang bingung dalam memilih sesuatu untuk dilaksanakan –ada dua pilihan sama-sama menjadi pilihan– seperti mau lamar pekerjaan, memilih jodoh, atau yang lain-lainnya, maka dianjurkan untuk shalat istikhara; memohon kepada Allah untuk ditunjukkan mana yang terbaik. Kemudian merasa Anda banyak berbuat dosa, banyak melakukan hal yang dilarang oleh agama –selama kesalahan yang diperbuat tidak ada kaitannya dengan sesama manusia– maka shalatlah taubat; minta ampunan kepada Allah atas segala dosa yang diperbuatnya. Ada juga ketika mereka terkena musibah yang berupa kesulitan dalam memperoleh makanan disebabkan oleh kekeringan disebabkan oleh lamanya tidak ada hujan, maka laksanakanlah shalat istisqa’; minta kepada Allah cucuran air hujan dari langit untuk membasahi bumi.
Mukjizat Dhuha
Kalau kita amati disekitar kita, setiap pagi setiap orang di dunia disibukkan dengan usaha, aktivitas dan urusannya masing-masing. Entah itu bekerja di kantor yang jadi pegawai, ngajar disekolah yang berprofesi jadi guru, mencari penungpang yang jadi sopir atau becak, mencari berita bagi yang jadi wartawan, menaiki perahu bagi yang nelayan dan pergi kesawah sambil membawa cangkul bagi yang pekerjaannya hidupnya sebagai petani, ada yang ke pasar, ke took dan lain sebagainya. Semua itu adalah pekerjaan yang baik karena mau bekerja dan berkarya. Karena kalau kita baca sejarah, semua para Nabi bekerja keras. Tidak ada Nabi yang kerjanya hanya menunggu keajaiban rezeki yang datang dari langit. Tetapi ditengah kesibukannya – sebelum memulai usahanya – para utusan Allah itu melakukan permohonan kepada Allah untuk dilancarkan usahanya. Seperti melakukan shalat dhuha atau yang lainnya.
Waktu dhuha adalah waktu yang penuh dengan fadhilah, terutama untuk mengawali aktivitas, baik yang bersifat duniawi (bisnis) atau yang bersifat ukhrawi. Kenapa disebut waktu yang penuh fadilah? Karena saat itu manusia sibuk dengan usuhanya sendiri-sendiri dan terkadang lupa akan Tuhannya, sepertinya yang mereka lakukan adalah hasil jerih usuhanya sendiri. Mereka banyak yang lupa bahwa rezeki yang ia dapatkan adalah datang dan merupakan anugerah (memberian) dari Allah.
Sampai saat ini, shalat dhuha dikenal oleh banyak orang sebagai salah satu shalat untuk melancarkan rezeki dan bisa memperpanjang umur. Tidak sedikit orang yang sukses di dunia ini yang keluar dari (madrasah) shalat dhuha dan shalat sunnah lain seperti tahajjud. Karena Rasulullah menganjurkan bagi pengikutnya sebelum melakukan aktivitas seharus shalat dhuha terlebih dahulu. Shalat dhuha menjadi pintu awal untuk kesuksesan seseorang dalam aktivitasnya. Karena dhuha merupakan media untuk minta sesuatu kepada Sang Rahman dan Sang Rahim.
Buku ini penting dibaca karena akan banyak membantu para pembaca dalam melakukan revolusi mendasar pada setiap diri, keluarga dan masyarakat pada umumnya.
Selamat membaca!
DATA BUKU
Judul Buku : Mukjizat Shalat Hajat dan Dhuha
Penulis : Yusni Amru Ghazali
Penerbit : Grafindo, Jakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 210 Halaman
Label:
dhuha,
grafindo,
mudah mencari rejeki,
mukjizat,
shalat sunnah,
tahajjud
Langganan:
Postingan (Atom)

