Tampilkan postingan dengan label ideologi pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ideologi pendidikan. Tampilkan semua postingan

08 Maret, 2010

Dongeng Yogyakarta tempo dulu

Oleh: Ach. Syaiful A'la*


Yogyakarta. Apa yang terlintas dibenak seseorang ketika mendengar kata Yogyakarta? Sebuah daerah yang telah berperadaban, masyarakatnya beretika, bermoral, sopan, halus dalam berbicara, budaya keraton, mempunyai kesenian dan kebudayaan yang tinggi, bahkan tak salah jika kini ada banyak orang menyebutnya sebagai daerah pendidikan (kota pelajar).


Ya kita pun mengamini dengan gelar tersebut, karena disana memang banyak perguruan tinggi berskala nasional hingga internasional, telah banyak mencetak sarjana, gudangnya ilmu pengetahuan, hampir disetiap kost/kontrakan ada penerbit dan percetakan buku, tempat seminar, diskusi, kajian keilmuan, peneliti, penulis dan lain sebagainya. Yogyakarta – biasa disebut Yogya – adalah tempat nyaman dan aman sebagai tempat pengembangan bakat diri (belajar).


Apa yang saya utarakan diatas, kalau pembaca hanya melihat Yogya pada saat sekarang ini. Bagaimana Yogyakarta masa silam? Terkadang kita lupa atau memang tidak tahu dengan beberapa peristiwa yang telah terjadi disana. Padahal sebuah peristiwa yang telah mendahuluinya akan membentuk suatu kondisi seperti saat sekarang. Misalnya disana ada sebuah peristiwa besar, Agresi Belanda pada tahun 1948-1949 ketika menggoncang kota Yogyakarta.


Buku Ditepi Takdir: Sebuah Novel Sejarah, Perjuangan dan Pendidikan setebal 255 halaman yang ditulis oleh Hj. Samsikin Abu Daldiri ini merupakan bukti sejarah (kisah nyata) dari peristiwa diatas. Isinya banyak mengupas tuntas tentang pengalaman dirinya pada sebuah kejadian yang sangat heroik tentang Agresi Belanda ketika menyerang kota Yogya. Buku ini ditulis dengan gaya kepenulisan bentuk cerita (novel), sehingga kehadirannya diruang pembaca akan menumbuhkan rasa simpati dan empati, seakan kita mengalami sendiri pada sebuah peristiwa seperti yang dirasakan oleh seorang diri Samsikin AD sebagai penulis.


Peristiwa Agresi Belanda di Yogyakarta – termasuk juga di daerah lainnya – merupakan rangkaian detik-detik yang amat mendebarkan dan sekaligus menghantui hidup orang banyak, termasuk penulis buku ini. Hj. Samsikin Abu Daldiri atau biasa disingkat dengan Samsikin AD, adalah seorang perempuan kelahiran desa Srandakan Kabupaten Bantul. Dalam usia tuanya, ia menyempatkan diri untuk menulis kisahnya pada masa silam disaat kota Yogya di goncang penjajah, sehingga menjadi sebuah karya yang menakjubkan dan gemilang di hadapan pembaca.


Dalam kisahnya, Samsikin menceritakan dalam buku ini – bahwa ini benar-benar terjadi yang dialaminya selama hampir tujuh bulan ketika tentara Belanda menduduki kota Yogya. Dia memulai menulis cerita dirinya ketika dalam pengungsian. Disaat tentara Belanda datang untuk menduduki kota Yogya, Samsikin yang masih berumur 13 tahun 4 bulan juga ikut diungsikan demi menjaga keselamatan warga sipil dari kekejaman serangkaian serangan tentara Belanda. Tempat yang dijadikan sebagai pengungsian bukan sebuah gedung atau tembok, tetapi adalah lubang, gelap, dan panas. Selama delapan jam dalam lubang pengungsian itu, ia hanya disuguhkan makan singkong. Sementara tiap orang hanya mendapat dua kerat singkong. Namun walaupun hanya dengan dua kerat singkon, ia pun tetap merasa kenyang (hlm. 37).


Suasana terus semakin menegangkan. Pesawat pengintai tentata Belanda terus mengitari area kota Yogya. Sehingga semua yang ada dalam pengungsian hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan untuk selalu diberi kekuatan bagi orang-orang yang akan membela, memperjuangkan dan mempertahakan Negara Republik Indonesia dari cengkaraman tangan penjajah. Semua dalam kecemasan, serba ketakutan, hidup sudah tidak bisa menikmati kebebasan, hidup dalam kepenjarahan, hidup dalam sebuah penderitaan, penuh siksaan dan dipekerja paksakan.


Siang, sekitar jam 11.00 hari Jumat legi tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Negara diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta di Jakarta. Semua orang berteriak “Merdeka… merdeka… kita sudah merdeka…! Hidup Bung Karno… Hidup Bung Hatta!”. Dari berbagai sudut kota di Yogya pun juga terdengar teriakan demkian dari orang banyak “merdeka”. Dihari yang bersejarah itu, semua orang, laki-laki dan perempuan, bapak-bapak dan ibu-ibu kesemuanya dikala berjumpa harus memekikan kata “merdeka” kalau tidak mau dicap sebagai mata-mata tentara Belanda (hlm. 122-123).


Samsikin sebagai bukti sejarah dalam cerita ini kini bisa tersenyum. Penjajah di bumi Indonesia khususnya di Yogyakarta telah tiada, kembali ke negaranya. Berubahlah semuanya. Langit Yogya mulai cerah, berbinar, sinar matahari mulai menembus dinding-dinding tebal untuk menerangi jagat raya, udara yang dingin dan sejuk menusuk badan untuk memberikan harapan besar bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sebagai warga Negara, Samsikin kini menikmati betapa bahagianya hidup tanpa penjajah. Bebas memilih pendidikan (sekolah), berpendapat, berekpresi, melakukan kreasi (menciptakan sebuah karya) kesemuanya adalah babakan yang amat menentukan nasib masa depannya.


Hanya saja, karena keterbatasan kemampuan diusia tuanya, masih banyak peristiwa penting di Yogyakarta pada saat kebiadaban tentara Belanda menduduki kota pelajar ini belum tercover dalam buku ini. Tetapi – minimal – buku ini cukup menjadi bacaan bagi angkatan penerus astafet perjuangan untuk negeri tercinta ini. Misalnya pembaca bisa meneladani penulis dikala ia dalam pengungsian, takut kepergok tentara Belanda, rintangan yang dihadapi, mengungsi lagi, hingga semangatnya yang tak pernah padam untuk terus menimba pendidikan.
Selamat membaca!


*Direktur Komunitas Baca Surabaya (KOMBAS)


DATA BUKU: (dimuat di Duta Masyarakat, 7/3/2010)
Judul Buku: Ditepi Takdir; Sebuah Novel Sejarah, Perjuangan dan Pendidikan
Penulis : Samsikin AD
Penerbit: Grafindo, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: 225 Halaman

23 Oktober, 2009

Pendidikan Sirkus

Oleh : A. Dardiri Zubairi*

Pak Midun senangnya bukan main melihat Syarkawi, anaknya, diterima di sebuah sekolah negeri di sebuah kecamatan, tak jauh dari tempat ia tinggal. Betapa tidak. Pak Midun hanyalah seorang petani biasa. Seorang yang membesarkan anak dalam keluarga dan masyarakat sederhana, lengkap dengan kultur guyub pedesaan yang melatarinya.

Sebelum diterima di sekolah negeri, Syarkawi belajar di sebuah madrasah swasta. Sorenya masih nambah di madrasah diniyah. Belum lagi malam hari, ia dikirim kepada seorang kyaji tua yang sudah lebih setengah abad istiqamah mengajarkan alif, bata, ta kepada anak-anak desa. Di sela-sela kesibukannya, syarkawi toh masih sempat membantu pak midun di sawahnya.

Hari pertama sekolah, pak Midun melihat sesuatu yang aneh. Anaknya pake’ dasi. Pak Midun sulit mengunyah ”realitas baru” yang menggantung di leher anaknya. Meski begitu ia berpikir positif saja. Senyum pun merekah, anaknya tampil gagah layaknya pemain senetron ABG yang kerap menghiasi layar kaca, lengkap dengan seragam sekolah dan dasinya. Ia pun bermimpi, anaknya kelak menjadi orang ”sukses”. Tidak perlu mereproduksi pekerjaan dia, yang selalu berkubang dengan tanah.

Tetapi toh dalam hatinya ia tetap sulit memahami, bahkan ketika anaknya sudah menginjak kelas XII. Apa hubungan sarung yang selalu dikenakannya dengan dasi anaknya(?)

Semakin lama, ”keganjilan” anaknya semakin memanjang. Ibarat ”gempa”, keganjilan itu telah meluluhlantakkan alam sadarnya. Bahkan menggoncang hingga bawah alam sadar.

Tiba-tiba anaknya enggan membantunya di sawah. Satu-persatu simbol masyarakat desa pun dilucuti, ya songkok, sarung, ngaji, kesenian hadrah, cangkul, dan seterusnya. Tak cukup simbol, nilai-nilai masyarakat desa seperti keikhlasan, kesederhanaan, sopan santun,kebersamaan juga dilepas.

Setiap kali pak Midun melihat anaknya, setiap kali itu pula ia melihat sosok ”alien”. Mahkluk dengan kepribadian asing. Cara pikir, berprilaku, berdandan, bahkan berselera asing. Ia semakin tak mengenalnya, meski setiap hari bersamanya.

Toh pak Midun tetap berpikir positif. Ia masih yakin, meski pendidikan telah mengasingkan anaknya dari lingkungannya sendiri, hal itu ia anggap proses yang niscaya. Proses yang mesti dilalui oleh seseorang untuk ”sukses”, persis seperti hotbah yang terus-menerus direproduksi oleh pendukung pendidikan modern. Dan pak Midun salah satu korbannya(?)

***
Pak midun dan anaknya adalah gambaran paradoksnya pendidikan modern saat ini. Satu sisi telah menyihir semua orang sehingga mempercayai ”pencerahan” yang dijanjikannya. Sisi lain, ”pencerahan” yang dijanjikan pendidikan modern ternyata tidak juga datang-datang.

Justru sebaliknya, anak didik bukan malah arif, tapi congkak (terutama terhadap lokalitas). Bukan kreatif, tapi passif. Bukan berjiwa enterprenuer, tapi tergantung. Bukan bebas, tapi terjajah. Bukan pencipta, tapi peniru. Bukan…

Dalam konteks kebangsaan, tiba-tiba nasionalisme (di)pudar(kan). Cinta kasih antar sesama lenyap. Gantinya, anak bangsa atas nama ”benda” bahkan ”identitas” (agama, etnis, ras, gender) rela saling berjibaku dan meradang.

Seperti pak Midun melihat anaknya, kita banyak jumpai alien di rumah (tangga), sekolah, jalan, masyarakat, negara, birokrasi, dan di mana-mana. Sosok yang dulu kita kenal, tapi sekarang sudah tidak menjejakkan kaki di kebudayaan sendiri. Sudah tercerabut dari akar budayanya dan sekarang sepenuhnya menjadi asing. Ah…jangan-jangan kita (saya) sendiri sudah menjadi makhluk alien juga?

Sampai di sini saya jadi geli sendiri. Bisakah air yang sudah keruh di hulu, mau dijernihkan di hilir?
Bisakah permasalahan yang demikian mendasar, diselesaikan secara tambal sulam? Misalnya, dengan menggagas pendidikan kewirausahaan?

Permasalahan pendidikan kita memang cukup kompleks. Sama carut-marutnya dengan situasi kebangsaan kita. Ada sesat pikir sejak level paradigmatiknya. Maka sejatinya diagnosa dan penyembuhannya harus dimulai sejak level paradigmatiknya juga.

Karena itu, mempertanyakan asumsi ideologis pendidikan kita menjadi penting.. Untuk apa dan siapa, ideologi pendidikan dirumuskan? Pasar, kapital, pabrik, kekuasaan,
atau memanusiakan manusia?

Sayang, pertanyaan seperti di atas tidak dimunculkan, terutama oleh pengambil kebijakan pendidikan. Mereka lebih suka ”ngurus” yang (maaf) remeh-remeh. Misalnya, UAN yang dipertahankan mati-matian. Pada hal banyak kritik, UAN tidak akan mampu menyelesaikan permasalah mendasar pendidikan.

Atau seperti sekarang, gembar-gembor otonomi pendidikan, meski realitasnya tetap sentralistik. Semua tahu, sentralisasi akan memasung kreativitas. Jika lembaga dan personalianya tidak kreatif, bagaimana mungkin akan menularkan kreativitas kepada anak didik?

Karena itu diskusi pendidikan kewirausahaan harus ditempatkan dalam kerangka (untuk terus-menerus)mempertanyakan asumsi ideologis pendidikan kita, dan menyuarakan otonomi pendidikan dipraktikkan secara penuh. Otonomi pendidikan secara penuh akan memungkinkan setiap lembaga pendidikan mendesain ideologi pendidikan, kurikulum, silabi, dan seterusnya sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan komunitasnya.

Dengan demikian, pendidikan kewirausahaan akan terintegrasi secara kokoh dalam kerangka pendidikan secara utuh, karena ditopang oleh ideogi pendidikan yang memanusiakan dan sesuai dengan lingkungan, kebudayaan, dan kebutuhan masyarakat sebagai user-nya.

Kita tentu tidak mau bukan, jika pendidikan kewirausahaan menguatkan ketidakpekaan anak didik terhadap tanggung jawab sosial. Dengan kata lain, capek-capek pendidikan kewirausahaan di(bel)ajarkan, tapi out putnya anak didik tetap individualistik dan kapitalistik.

Mari kita pertanyakan asumsi ideologis pendidikan kita, sembari merancang pendidikan kewirausahaan, untuk menjawab kegelisahaan pak Midun melihat dasi dan makhluk alien.


*)Kepala MA Nasy'atul Muta'allimin Gapura Timur Sumenep


Dipetik dari: http://enewsletterdisdik.wordpress.com/24/10/09