Ach. Syaiful A'la, S.Pd.I
Karomah – atau dalam bahasa Indonesia disebutnya sebagai keramat; adalah suatu peristiwa yang sulit diterima oleh akal pikiran manusia pada umunya. Akan tetapi karomah banyak dijumpai dalam berbagai literatur agama termasuk di luar agama Islam sendiri.
Tetapi karomah tidak sama dengan kekuatan linuwih yang dimiliki oleh orang yang fasik. Sebab meskipun orang fasik bisa juga melakukan keajaiban-keajabian sebagaimana karomah, yaitu orang yang dekat dengan Allah (shaleh). Namun kejabaiban yang dilakukan oleh orang fasik itu bukanlah karomah. Kejadian itu kita kenal dalam Islam dengan istilah istidraj, ada yang menyebutnya dengan al-makr (tipu daya) dan al-ihlak (pembinasaan) – kejadian yang luar biasa yang diberikan Allah kepada hambanya yang fasik alias kufur agar mereka bertambah kekufurannya alias bertambah sombong. Pekerjaan mereka banyak dibantu oleh iblis dan anak buahnya.
Berbeda dengan karomah. Karomah merupakan tanda kewalian seorang hamba Allah, sebagaimana mukjizat yang diberikan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai bukti tanda kenabian. (baca : perbedaan antara mukjizat, karomah, istijraj, sihir). Biasanya karomah tidak tampak – atau sengaja tidak ditampakkan oleh seorang hamba Allah – karena takut akan memutus perjalanan spiritual dirinya kepada Allah. Yang demikian itu banyak kita jumpai dibeberapa, terkadang diketahuinya bahwa seseorang mempunyai karomah kalau dia sudah tidak ada alias meninggal dunia. Ada juga yang langsung ditampak karena berkenaan dengan dakwah dimana mereka berhadapan sesuai dengan obyek dakwahnya.
Suatu contoh seorang kiai – sebut saja namanya kiai Hosa panggilan akrapnya KH Hosamuddin tinggal disebuah kampung namanya kampong Battangan terletak di Desa Gapura Timur Sumenep Madura, yang namanya tidak tersentuh dalam buku ini – dalam melakukan dakwah di Desa Candi (Dusun Gunung), beliau menampakkan ilmu kesaktian yang ada dirinya.
Konon, pernah suatu hari ada sebuah jam’iyah (kompolan, madura) di Desa Candi itu. Karena masyarakatnya masih minim akan ilmu-ilmu agama, ketika dalam acara jam’iyah yang selalu diperbincangkan tentang “carok” – adu ketangkasan dengan menggunakan alat yang namanya arek (madura : latting, sade’, caloret, busri, pengerrat dan lain-lain). Sehingga banyak jamaah tidak mendengarkan isi ceramah dari kiai Hosa. Alkisah, dari salah satu anggota jam’iyah yang dipimpin kiai Hosa di Desa setempat, suatu ketika usai acara, sang kiai – memang dengan sengaja – meletakkan koreknya (coret, madura) dibawah daun pisang (daun sisa bungkus makanan yang disajikan tuan rumah untuk jamaah, di madura makanan itu disebut dengan pes-paes atau leppet) kemudian kiai pamit dan pergi meninggalkan acara.
Tidak jauh dari tempat acara, sekitar + 100 m kiai Hosa pura-pura memanggil minta tolong kepada seseorang yang masih ada didalam tempat perkumpulan tadi bahwa koreknya ketinggalan di tempat dimana ia duduk. Setelah dicari-cari oleh jamaah ternyata korek itu berada dibawah daun pisang sisa bungkus suguhan yang disajikan ke pak kiai. Yang aneh pada waktu itu, semua orang (laki-laki) yang ada dalam perkumpulan, tidak satu pun yang bisa mengangkat korek pak kiai – terasa berat untuk mengangkatnya.. Dengan kejadian itu tadi, akhirnya masyarakat percaya dan taat bahwa kiai Hosamuddin mempunyai kemampuan (karomah) yang luar biasa. Sehingga dalam melakukan dakwah agama selanjutnya meresa gampang menyampaikan pesan-pesan moral agama kepada masyarakat berkah karomah yang ditampakkan secara terang-terang di khalayak umum.
Contoh lain misalnya karomah yang dimiliki kiai As’ad. Beberapa tahun silam Nahdlatul Ulama (NU) mengadakan muktamar ditempatkan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo. Muktamar itu akan dihadiri oleh Presiden Soeharto untuk membuka acara. Karena musim kemarau (panas), maka tempat landas (lapangan) helikopter presiden beserta rombongan dikhawatirkan berdebu akhirnya dinas terkait di kabupaten setempat menyiram lapangan agar tidak berdebu. Tidak lama setelah pekerjaan berlangsung, tiba-tiba kiai As’ad muncul dan minta untuk dihentikan penyiramannya karena hanya membuang-buang anggaran daerah. Kiai As’ad bilang bahwa hujan sebentar lagi akan turun – padahal musim kemarau. Tidak lama setelah kiai As’ad pulang dari lapangan ternyata benar mulai ada gerimis bahkan sampai hujan lebat membasahi area lapangan. Anehnya dari kejadian diatas, ditempat lain tidak ada yang hujan alias kering, yang ada hujan hanya di lapangan tadi (hlm. 19-25).
Itulah baru sekilas cerita dari kiai kampung pengasuh pesantren, dan masih banyak karomah-karomah kiai-kiai lainnya yang sengaja ditampakkan atau tidak ditampakkan di masyarakat. Misalnya di dunia pesantren (NU) ada yang namanya kiai Kholil Bangkalan, kiai Imam Nawawi, kiai Hasyim Asy’ari, kiai Usymuni Tarate, kiai Syarqawi Guluk-guluk, kiai Ali Brambang dengan karomahnya bisa ngajari kera ngaji Al-Qur’an hingga beberapa ayat dan masih banyak kiai-kiai NU dan pesantren lainnya yang tidak bisa disebutkan semua namanya disini yang telah mempunyai karomah luar biasa karena kedekatannya kepada Allah sehingga dengan karomahnya telah banyak memberikan pencerahan dan bimbingan pada masyarakat.
Dalam Al-Qur’an banyak sekali yang ayat mengisahkan kejadian yang sulit diterima oleh akal. Tetapi peristiwa itu memang telah terjadi. Lihathah seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an : ashabul kahfi, sekompok pemuda sufi yang tertidur nyenyak dalam jangka waktu ratusan tahun dalam goa, Nabi Ibrahim yang dibakar oleh raja Namrud, kemudian keluar dari kobaran tanpa ada sedikit cacat dari anggota tubuhnya, Nabi Musa hanya dengan sepotong kayu (tongkat) bisa membelah laut, kemudian laut menjadi lorong hingga akhirnya dirinya selamat dari kejaran raja Fir’un, kemudian raja Fir’un berserta bala tentaranya ditenggelam di laut merah ketiga mengejar sang kekasih Allah (khalilullah) karena air kembali merapat setelah Nabi Musa dengan pengikutnya sampai di daratan, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang luar biasa (khawariqul adat) lainnya yang kita temukan dalam Al-Qur’an. Kelebihan-kelebihan (karomah) yang diberikan Allah kepada seorang wali (orang yang dekat dengan-Nya) tiada lain hanya untuk memantapkan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah.
Buku ini hadir diruangan pembaca tiada lain untuk mengisahkan beberapa karomah yang dimiliki oleh para kiai yang ada di (lokal) Indonesia, khususnya didunia pesantren. Buku ini berisi sebanyak 77 kisah (nyata, sudah terjadi dan terbukti ada kebenarannya) karomah kiai asli indonesia. Dan kisah-kisah yang ada dalam buku ini telah terkuak dimasyarakat bahkan diluar pesantren; kisah-kisah yang belum bertuliskan dalam selembar buku dan hanya berkembang dari mulut kemulut.
Selamat membaca!
*) Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya
DATA BUKU:
Judul Buku : Karomah Para Kiai
Penulis : Samsul Munir Amir
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xx+348 Halaman
Tampilkan postingan dengan label karomah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karomah. Tampilkan semua postingan
03 November, 2009
24 Februari, 2009
Ketika Ilmu Tak Bermakna
Oleh : Ach. Syaiful A’la*
“Prestasi yang besar sesungguhnya merupakan hasil dari melakukan hal-hal yang kecil dengan baik ”
Sore itu (24/2/09), Saya telepon-teleponan dengan salah satu staf redaksi Qulbun. Diakhir pembicaraan, tiba-tiba Saya diminta untuk ngisi tulisan di rubrik Fokus disana. Tema yang disajikan pada Saya “Bagaimana Jika Ilmu Tanpa Barokah?” Waktu itu, Saya langsung jadi teringat dauh (pesan) al-alim al-allamah (alm) KH. A. Zubairi Marzuqi, pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur, ketika itu Saya pernah sowan kira-kira kurang lebih satu bulan sebelum menjelang kepergian beliau menghadap Sang Khaliq. Pesannya begini: “Kalau kamu terus melanjutkan kuliah habis ngabdi nanti, jangan hanya minta pintar kepada Allah, tapi mintalah pula ilmu yang bermamfaat alias barokah”.
Kata “barokah” mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga orang Indonesia, apalagi yang pernah hidup di lingkungan pondok pesantren, meskipun aslinya bahasa itu berasal bahasa Arab. Bahkan bagi tuan jika rajin blusukan nyari makan ke warung-warung, sering bolak-balik ke warnet, atau yang tidak henti-hentinya ngisi pulsa ke konter, biasanya didepan bertulis nama warung, warnet atau konter (cell) “barokah”. Sungguh satu kata yang memiliki daya jual yang tinggi.
Secara sederhana barokah adalah kebaikan yang banyak atau kebaikan yang tetap dan tidak hilang dan barokah hanya berasal dari Allah (tidak dari orang-orang yang telah meninggal dunia) dan barokah diberikan Allah kepada hamba atau sesuatu makhluk yang dikehendaki-Nya. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menjelaskan masalah barokah atau dengan istilah yang lain, yakni hikmah. Misalnya: Qs. 2:129, Qs. 2:151, Qs. 2:231, Qs. 2:251, Qs. 2:269, Qs. 3:48, Qs. 3:79, Qs. 3:81, Qs. 3:164, Qs. 4:54, Qs. 4:113, Qs. 5:110, Qs. 6:89, Qs. 12:22, Qs. 16:125, Qs. 17:1, Qs. 17:39, Qs. 21:74, Qs. 21:79, Qs. 26:21, Qs. 26:83, Qs. 28:14, Qs. 31:12, Qs. 33:34, Qs. 38:20, Qs. 43:63, Qs. 45:16, Qs. 54:5, Qs. 62:2.
Pembahasan mengenai barokah, memang belum ada dalam kitab secara khusus yang langsung membahas tentang barokah itu sendiri, kalaupun ada itupun cuma pemahaman-pemahaman atau pendapat para ulama saja tentang barokah. Secara ta’rif barokah itu bias diartikan qoliilan-qoliilan-qoliilan fa katsiiran (sedikit-sedikit-sedikit kemudian menjadi banyak). Seingat penulis ketika pernah ngaji ke Pak kiai (alm, KH. A. Zubairi Marzuqi) di pondok pesantren, minimal harus memenuhi tiga ciri dibawah ini bahwa sesuatu itu (ilmu, rejeki dan lainnya) dikatakan barokah, diantaranya:
Pertama, bermanfaat bagi banyak makhluk yang lain, misalnya Allah memberikan keistimewaan pada Al-Qur’an, yaitu barangsiapa yang membaca, memahami maknanya dan mengamalkan isinya, maka akan mendapat barokah dari Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Atau Allah memberikan barokah kepada hambanya yang sholeh berupa ilmu pengetahuan sehingga bisa memberi pengajaran (pendidikan) kepada masyarakat.
Biasanya yang demikian itu, ditelinga kita lebih akrap dengan istilah karomah (keramat, jawa). Contoh lain, kalau tuan sering mendengarkan berita atau yang tekun membaca surat kabar, tidak lama ini ada Ponari, si dukun tiban cilik dari Jombang. Itulah sebuah bukti barokah (hikmah) yang diberikan Allah kepada hambanya dengan melalui perantara sebuah batu, atau Allah memberikan suatu kekuatan pada benda (batu) sehingga bisa menyembuhkan ratusan bahkan ribuan pasein setiap harinya.
Kedua, tidak berkurang manakala dimanfaatkan. Mungkin ketika tuan ingin berangkat mencari ilmu ke pondok pesantren atau yang mau kuliah kemana saja, orang tua tuan biasanya pula mengucapkan demikian “Semoga ilmu yang kamu pelajari berkah ya cong” . Maksud dari ucapan orang tua itu adalah semoga ilmu yang tuan pelajari itu diberi kebaikan oleh Allah, baik bagi tuan sendiri ataupun bagi orang lain. Semisal, orang lain bisa mengambil manfaat banyak dari ilmu tuan atau dengan ilmu tersebut tuan bisa banyak membantu orang lain atau meringankan masalah yang sedang dihadapi oleh orang lain yang ada disekitar tuan.
Ketiga, jumlahnya bertambah manakala dimanfaatkan. Jika ada seseorang mengucapkan demikian kepada anda “semoga Allah selalu memberkahimu” maka maksud dari ucapan tsb adalah semoga Allah selalu mendatangkan kebaikan bagi anda. Entah itu anda dicintai banyak orang, anda memperoleh rezeki yang halal, anda menjadi orang yang sabar, anda mempunyai ucapan lisan yang baik, anda istiqomah dalam mejalankan islam, anda mendapatkan pekerjaan yang baik dan segala bentuk kebaikan-kebaikan lain yang jumlahnya tak terhitung.
Ilmu (yang) Barokah
Pribahasa Arab mengatakan: al-ilmu bila amalin ka-assyajarati bila tsamarin (ilmu yang tidak diamalkan, bagaikan pohon yang tidak berbuah. Alias tidak bisa memberikan mamfaat kepada orang lain (tidak barokah). Pertanyaan kemudian, bagaimana kalau ilmu itu tanpa barokah?
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendeskripsikan bagaimana seseorang mendapatkan barokah, karena untuk sampai kesana banyak sekali cara (thariqah) yang dilakukan oleh seseorang (baca:santri). Berbicara mengenai topik barokah adalah sesuatu yang abstrak. Karena ada orang yang tidak pernah belajar kemudian pintar dengan sebab ngabdi ke kiai, mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan kiai setiap harinya dengan ikhlash. Atau ada pula santri yang sering melakukan puasa atau rajin ngaji kemudian menjadi pandai, padahal secara akademis tidak ada hubungan antara puasa dengan pintar dan tidak bisa diajarkan kepada orang lain. Tetapi disini jelas bahwa barokah itu dipengaruhi oleh pengetahuan (pendidikan) seseorang dan datang dari belajar (ta’allum). Barokah bukan pula ladunni.
Ilmu tanpa barokah itu hanya sekedar wacana saja. Artinya ilmu dikatakan barokah ketika ia bisa mengaplikan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mafhum dan mengetahi banyak tentang shalat, tapi tidak memperaktekan/tidak mendirikan shalat, hemat penulis ilmu itu adalah ilmu tidak barokah. Sesuatu yang tidak diperaktekkan itu namanya tidak barokah. Karena itu, keilmuan prioritasnya pada pengamalannya, bukan pada kealimannya. Kalau tolak ukur (standar) barokah adalah kealimannya seseorang, maka syetan itu saya pikir adalah mahkluk yang alim, cerdas, dan pandai strategi.
Mungkin kalau (barokah) disajikan pada kajian liberal, kelompok yang selalu mengedepan rasio, “barokah” itu sudah dianggap tidak ada, karena tidak tampak alias abstrak. Tapi sebenarnya kalau mau jujur, bahwa keilmuan mereka telah barokah, karena ia bisa mengamalkan, memperatekkan, dan mampu mewacanakan ilmu yang didapat, selama tetap dalam rel atau rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Agama. Semoga barokah!
*Alumnus PP. Nasy’atul Muta’allimin (NASA) Gapura Timur, kini melanjutkan studi di Fakultas Tarbiyah Kesukaan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
“Prestasi yang besar sesungguhnya merupakan hasil dari melakukan hal-hal yang kecil dengan baik ”
Sore itu (24/2/09), Saya telepon-teleponan dengan salah satu staf redaksi Qulbun. Diakhir pembicaraan, tiba-tiba Saya diminta untuk ngisi tulisan di rubrik Fokus disana. Tema yang disajikan pada Saya “Bagaimana Jika Ilmu Tanpa Barokah?” Waktu itu, Saya langsung jadi teringat dauh (pesan) al-alim al-allamah (alm) KH. A. Zubairi Marzuqi, pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur, ketika itu Saya pernah sowan kira-kira kurang lebih satu bulan sebelum menjelang kepergian beliau menghadap Sang Khaliq. Pesannya begini: “Kalau kamu terus melanjutkan kuliah habis ngabdi nanti, jangan hanya minta pintar kepada Allah, tapi mintalah pula ilmu yang bermamfaat alias barokah”.
Kata “barokah” mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga orang Indonesia, apalagi yang pernah hidup di lingkungan pondok pesantren, meskipun aslinya bahasa itu berasal bahasa Arab. Bahkan bagi tuan jika rajin blusukan nyari makan ke warung-warung, sering bolak-balik ke warnet, atau yang tidak henti-hentinya ngisi pulsa ke konter, biasanya didepan bertulis nama warung, warnet atau konter (cell) “barokah”. Sungguh satu kata yang memiliki daya jual yang tinggi.
Secara sederhana barokah adalah kebaikan yang banyak atau kebaikan yang tetap dan tidak hilang dan barokah hanya berasal dari Allah (tidak dari orang-orang yang telah meninggal dunia) dan barokah diberikan Allah kepada hamba atau sesuatu makhluk yang dikehendaki-Nya. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menjelaskan masalah barokah atau dengan istilah yang lain, yakni hikmah. Misalnya: Qs. 2:129, Qs. 2:151, Qs. 2:231, Qs. 2:251, Qs. 2:269, Qs. 3:48, Qs. 3:79, Qs. 3:81, Qs. 3:164, Qs. 4:54, Qs. 4:113, Qs. 5:110, Qs. 6:89, Qs. 12:22, Qs. 16:125, Qs. 17:1, Qs. 17:39, Qs. 21:74, Qs. 21:79, Qs. 26:21, Qs. 26:83, Qs. 28:14, Qs. 31:12, Qs. 33:34, Qs. 38:20, Qs. 43:63, Qs. 45:16, Qs. 54:5, Qs. 62:2.
Pembahasan mengenai barokah, memang belum ada dalam kitab secara khusus yang langsung membahas tentang barokah itu sendiri, kalaupun ada itupun cuma pemahaman-pemahaman atau pendapat para ulama saja tentang barokah. Secara ta’rif barokah itu bias diartikan qoliilan-qoliilan-qoliilan fa katsiiran (sedikit-sedikit-sedikit kemudian menjadi banyak). Seingat penulis ketika pernah ngaji ke Pak kiai (alm, KH. A. Zubairi Marzuqi) di pondok pesantren, minimal harus memenuhi tiga ciri dibawah ini bahwa sesuatu itu (ilmu, rejeki dan lainnya) dikatakan barokah, diantaranya:
Pertama, bermanfaat bagi banyak makhluk yang lain, misalnya Allah memberikan keistimewaan pada Al-Qur’an, yaitu barangsiapa yang membaca, memahami maknanya dan mengamalkan isinya, maka akan mendapat barokah dari Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Atau Allah memberikan barokah kepada hambanya yang sholeh berupa ilmu pengetahuan sehingga bisa memberi pengajaran (pendidikan) kepada masyarakat.
Biasanya yang demikian itu, ditelinga kita lebih akrap dengan istilah karomah (keramat, jawa). Contoh lain, kalau tuan sering mendengarkan berita atau yang tekun membaca surat kabar, tidak lama ini ada Ponari, si dukun tiban cilik dari Jombang. Itulah sebuah bukti barokah (hikmah) yang diberikan Allah kepada hambanya dengan melalui perantara sebuah batu, atau Allah memberikan suatu kekuatan pada benda (batu) sehingga bisa menyembuhkan ratusan bahkan ribuan pasein setiap harinya.
Kedua, tidak berkurang manakala dimanfaatkan. Mungkin ketika tuan ingin berangkat mencari ilmu ke pondok pesantren atau yang mau kuliah kemana saja, orang tua tuan biasanya pula mengucapkan demikian “Semoga ilmu yang kamu pelajari berkah ya cong” . Maksud dari ucapan orang tua itu adalah semoga ilmu yang tuan pelajari itu diberi kebaikan oleh Allah, baik bagi tuan sendiri ataupun bagi orang lain. Semisal, orang lain bisa mengambil manfaat banyak dari ilmu tuan atau dengan ilmu tersebut tuan bisa banyak membantu orang lain atau meringankan masalah yang sedang dihadapi oleh orang lain yang ada disekitar tuan.
Ketiga, jumlahnya bertambah manakala dimanfaatkan. Jika ada seseorang mengucapkan demikian kepada anda “semoga Allah selalu memberkahimu” maka maksud dari ucapan tsb adalah semoga Allah selalu mendatangkan kebaikan bagi anda. Entah itu anda dicintai banyak orang, anda memperoleh rezeki yang halal, anda menjadi orang yang sabar, anda mempunyai ucapan lisan yang baik, anda istiqomah dalam mejalankan islam, anda mendapatkan pekerjaan yang baik dan segala bentuk kebaikan-kebaikan lain yang jumlahnya tak terhitung.
Ilmu (yang) Barokah
Pribahasa Arab mengatakan: al-ilmu bila amalin ka-assyajarati bila tsamarin (ilmu yang tidak diamalkan, bagaikan pohon yang tidak berbuah. Alias tidak bisa memberikan mamfaat kepada orang lain (tidak barokah). Pertanyaan kemudian, bagaimana kalau ilmu itu tanpa barokah?
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendeskripsikan bagaimana seseorang mendapatkan barokah, karena untuk sampai kesana banyak sekali cara (thariqah) yang dilakukan oleh seseorang (baca:santri). Berbicara mengenai topik barokah adalah sesuatu yang abstrak. Karena ada orang yang tidak pernah belajar kemudian pintar dengan sebab ngabdi ke kiai, mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan kiai setiap harinya dengan ikhlash. Atau ada pula santri yang sering melakukan puasa atau rajin ngaji kemudian menjadi pandai, padahal secara akademis tidak ada hubungan antara puasa dengan pintar dan tidak bisa diajarkan kepada orang lain. Tetapi disini jelas bahwa barokah itu dipengaruhi oleh pengetahuan (pendidikan) seseorang dan datang dari belajar (ta’allum). Barokah bukan pula ladunni.
Ilmu tanpa barokah itu hanya sekedar wacana saja. Artinya ilmu dikatakan barokah ketika ia bisa mengaplikan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mafhum dan mengetahi banyak tentang shalat, tapi tidak memperaktekan/tidak mendirikan shalat, hemat penulis ilmu itu adalah ilmu tidak barokah. Sesuatu yang tidak diperaktekkan itu namanya tidak barokah. Karena itu, keilmuan prioritasnya pada pengamalannya, bukan pada kealimannya. Kalau tolak ukur (standar) barokah adalah kealimannya seseorang, maka syetan itu saya pikir adalah mahkluk yang alim, cerdas, dan pandai strategi.
Mungkin kalau (barokah) disajikan pada kajian liberal, kelompok yang selalu mengedepan rasio, “barokah” itu sudah dianggap tidak ada, karena tidak tampak alias abstrak. Tapi sebenarnya kalau mau jujur, bahwa keilmuan mereka telah barokah, karena ia bisa mengamalkan, memperatekkan, dan mampu mewacanakan ilmu yang didapat, selama tetap dalam rel atau rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Agama. Semoga barokah!
*Alumnus PP. Nasy’atul Muta’allimin (NASA) Gapura Timur, kini melanjutkan studi di Fakultas Tarbiyah Kesukaan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Langganan:
Postingan (Atom)

