Tampilkan postingan dengan label ach. syaiful a'la. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ach. syaiful a'la. Tampilkan semua postingan

08 Desember, 2012

Pilihan Elit NU dan Warganya

Oleh: Ach. Syaiful A'la*

 Semua orang sudah paham, bahwa berbincang perpolitikan di Jawa Timur juga tidak lepas pada sebuah organisasi sosial keagamaan yang namanya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Di Jawa Timur organisasi ini dilahirkan, tak hayal jika propinsi ini merupakan basis nahdliyyin (sebutan bagi warga NU), tidak aneh pula jika beberapa calon gubernur baik kader NU sendiri atau kader yang lainnya setiap musim pemilihan legeslatif maupun eksekutif ingin mendapatkan dukungan atau rekomendasi secara struktural dari NU untuk memperebutkan suara nahdliyyin. Hingga saat ini posisi NU ibarat gadis cantik dan suci yang dipeributkan oleh banyak orang.

Dalam kesempatan seperti itu, NU sendiri merasa sudah percaya diri dan tak ingin ketinggalan, ia menginginkan kadernya sendiri yang menjadi pemimpin di Jawa Timur. Maka dilakukanlah beberapa cara untuk melakukan penjaringan terhadap kader-kadernya sendiri siapa yang layak mimpin Jawa Timur lima tahun mendatang. Misalnya dengan cara mendekati beberapa partai politik yang merupakan refresentasi politik warga NU atau melakukan koalisi dengan partai yang lain agar bisa mengusung kadernya.

Keterlibatan NU dalam kancah politik praktis selalu kandas ditengah jalan untuk mengantarkan kadernya duduk dikursi eksekutif. Salah contoh dalam pemilihan presiden 2004, dimana ketua umum PBNU mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati Seokarno Putri. Contoh kedua pada pemilihan Gubernur Jawa Timur 2008, disana ada Khofifah. Bahkan NU all out disana. Untuk itu, tahun 2013 ini NU sepertinya tidak mau absen lagi dalam pemilihan gubernur nanti. Akhirnya membentuk tim untuk melakukan penjaringan terhadap kadernya yang akan dijagokan oleh NU.

Untuk tidak terjadi kekalahan yang kedua kalinya, walaupun tidak ada juga jaminan mutlak menang, hemat penulis, PWNU Jawa Timur perlu menyimak tulisan Samsudin Adlawi, Ubah Srategi NU Rebut Kursi Gubernur (Jawa Pos, 30/11/12) dan Salahuddin Wahid, Memilih Cagub Satu Tokoh NU (Jawa Pos, 7/12/2012), merupakan masukan bagi struktural NU Jawa Timur untuk merubah strateginya jika ingin kadernya menjadi orang nomor satu di daerah basis nahdliyyin ini pada pemilihan gubernur 2013 nanti. Adlawi menjelaskan bahwa kalau NU kepingin kadernya menang perlu mencontoh apa yang dilakukan oleh pengurus PCNU Banyuwangi dalam proses penjaringan bupati yang akan dijagokan. Artinya, PWNU Jawa Timur tidak serta merta merekomendasikan, memberikan kesimpulan sendiri, dan menetapkan calonnya kemudian hanya menginstruksikan kepada cabang-cabang untuk mendukung dan memenangkan calon dimaksud.

Beda Pilihan dalam NU
Lalu pertayaannya, apakah Pemilihan kepala daerah (pemilukada) di Jawa Timur yang akan digelar 2013 mendatang bisa disamakan dengan pemilukada yang ada di Banyuwangi yang areanya hanya kabupaten? Hal ini yang perlu diperhatikan oleh NU sendiri untuk tidak terlalu percaya diri bahwa jagonya bakal menang. Karena berbicara pemilihan gubernur wilayahnya cukup luas dan NU sendiri masih perlu melakakukan koordianasi dan penyamaan persepsi dengan beberapa cabang yang jumlahnya cukup banyak.

Disaat kondisi perpolitikan bangsa dimana pemilih semakin prakmatis, maka perpolitikan masing-masing kabupaten, disana ada NU cabang pun cukup sulit ditebak kemana arah dukungannya. Karena masing-masing pengurus cabang mempunyai pilihan dan kepentingan yang berbeda. Jika saudara mas Adlawi dalam tulisannya mengusulkan agar PWNU Jawa Timur mengadakan serap aspirasi kepada semua cabang-cabang, hemat penulis itu cukup baik. Karena dengan sistem terbuka seperti itu semua akan legewo. Tapi perlu kita analisis kembali.

Mari kita lihat, zaman ini adalah zaman dimana terjadi kondisi politik yang transaksional bisa disaksikan dimana-mana. Visi dan misi, program kerja dan track record yang baik dari calon tidak menjadi ukuran untuk mendapat simpatik pemilih dan bisa menang. Bila serap aspirasi dilakukan, bisa saja setiap cabang membawa nama-nama calon yang akan dijagokan untuk memimpin Jawa Timur yang mendapat direkomendasikan NU. Hanya saja, karena setiap cabang mempunyai nama calon yang dijagokan, kalau jagonya tidak terpilih, sikap kecewa dan akan memberikan dukungan pada yang lain saat pemilihan gubernur nanti. Karena sentimental dari masing-masing cabang tetap akan terjadi.

Analisis kedua, adanya serap aspirasi itu tidak mustahil beberapa calon akan melakukan pendekatan terhadap beberapa pengurus cabang NU untuk bisa memenangkan dukungan suara terbanyak pada tahap penjaringan, keadaan seperti ini akan berakibat buruk, terjadinya money politic dalam proses penjaringan yang akan diusung oleh NU Jatim. Dalam percaturan politik, saat uang berbicara tidak tembus, muncul adanya kontrak bagi posisi dan janji-janji.

Analisis ketiga, walaupun semua cabang pada akhirnya berkomitmen dengan tetap mengikuti hasil penjaringan yang dilakukan secara bersama, mendukung calon yang banyak suaranya dan dijagokan oleh NU, lalu bagaimana ketika membaca posisi nahdliyyin sebagai pemilih disaat suara politik bisa ditransaksikan dengan uang. Kondisi inilah yang sulit ditebak dari suara warga nahdliyyin. Karena para elit NU dan warganya pasti mempunyai pilihan yang berbeda. Tidak sedikit – untuk tidak mengatakan banyak – yang secara struktural NU mendukung calon tertentu, nahdliyyin mempunyai pilihan yang berbeda. Warga NU juga mempunyai prinsip bahwa masalah politik adalah hak individu dan kalau mempunyai pilihan berbeda dengan elit NU juga tidak ada sanksi yuridis apalagi sampai dipecat dari keanggotaan NU

 Jika demikian, NU ibarat parpol lokal yang setiap saat sibuk mengurus politik untuk menjagokan orangnya. Bahkan kalau kadernya tidak diusung oleh parpol tertentu, akhirnya NU harus turun gunung dengan mengumpulkan KTP agar mengusung kadernya secara independen. Itu pun selalu berujung pada sebuah kekalahan. Lalu apa makna “Khittah” itu yang sebenarnya?


*Dosen STI Al Karimiyyah Sumenep & Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya

30 Mei, 2011

Buku untuk Kenaikan Pangkat?

Oleh: Ach. Syaiful A'la*


Ada fenomena menarik saat ini di kalangan tenaga pendidik kita, khususnya di lingkup para dosen atau pengajar perguruan tinggi. Di antara mereka berlomba menulis buku demi tujuan tertentu.


Kalau dulu, apalagi zaman Orde Baru, orang takut menyuarakan pikiran-pikirannya lewat tulisan, apalagi sampai melakukan kritikan terhadap pemerintah. Tapi, kini zamannya berbeda. Semua orang bisa berekspresi, membuat tulisan atau karangan berupa buku, opini, menulis di blog, jejaring facebook dan lain sebagainya.


Sepuluh tahun lalu mungkin jarang kita temukan (untuk tidak mengatakan tidak ada) karangan-karangan yang ditulis dosen di kampus-kampus. Tetapi, kini jangan ditanyakan, hampir setiap dosen di perguruan tinggi aktif membuat karangan berupa buku, di samping juga sering menulis jurnal. Ada di antara dosen lainnya sengaja mengirimkan tulisan-tulisan mereka di media massa.


Pertanyaannya, kenapa mereka berlomba menulis buku? Banyak dosen enggan menulis di media massa karena untuk bisa menembusnya agar tulisannya dimuat, harus melalui seleksi dan persaingan yang ketat.


Beberapa waktu lalu, saya berjalan-jalan, sampai di sebuah tempat foto kopi, yang terletak berdekatan dengan salah satu kampus. Saya menjumpai ada beragam judul buku baru yang dicetak oleh pihak rental (bukan penerbit). Tetapi, jumlahnya tidak banyak, per judul buku itu maksimal hanya berjumlah lima eksemplar. Kala itu saya berfikir, mungkinkan buku-buku itu merupakan hasil dari penggandaan buku (fotokopi) hasil tulisan orang lain yang diterbitkan oleh salah satu penerbit?


Tetapi, ternyata tidak demikian. Buku-buku itu adalah buku baru, ditandai dengan bulan, tahun dan tercantum pula penulisnya. Mereka tergolong orang-orang baru yang belum dikenal luas di media-media seperti koran.


Memang, membuat karangan seperti buku - kata banyak orang - lebih gampang daripada menulis opini di media massa. Karena, membuat tulisan dengan jumlah karakter tertentu di media massa memang tidak mudah. Bagaimana pun menulis opini adalah menulis ide dengan jumlah kolom yang begitu sempit. Sementara menulis opini melalui buku dirasa itu bebas, tidak terbatas oleh space.


Kehadiran buku-buku itu memang bisa membuat penasaran. Apalagi, disain sampulnya begitu indah dengan judul yang tidak kalah menariknya dengan buku-buku karya orang-orang yang sudah punya nama di dunia tulis-menulis, Namun, isinya tampaknya memang masih mendatangkan tanda tanya, kendati ber-ISBN (International Standard Book Number) pula.


Karena penasaran, saya memberanikan bertanya kepada pemilik tempat foto kopi tersebut ihwal buku-buku yang dipajang di etalase. Pemilik foto kopi itu dengan lancar menjawab, "Buku-buku ini mas, hanya untuk kenaikan pangkat/golongan oleh penulisnya. Makanya, tidak dicetak banyak karena memang tidak untuk dijual-belikan."


Dari pembicaraan tadi jelas, kita tidak bisa menyalahkan pemilik foto kopi tadi, karena dia hanya melakukan bisnis. Pikirannya juga tiada lain untuk mencari untung dari pekerjaannya walaupun terkadang juga harus hati-hati terhadap buku yang dilarang untuk digandakan.


Bom Akademik

Tentu masih belum hilang dalam ingatan kita tentang adanya kasus ledakan bom buku yang sempat menyita perhatian publik. Tetapi, tulisan ini tidak bermaksud membahas tentang bom buku seperti ramai dibicarakan orang. Maksudnya hanya membahas tentang buku-buku 'sampah' yang juga tidak kalah dahsyat dampak negatifnya dengan isu bom buku karena berdampak menghancurkan nilai dan kualitas dunia akademik di lingkungan perguruan tinggi.


Kenapa saya berani mengatakan demikian, karena buku yang ditulis tidak dimaksudkan untuk melakukan sebuah transformasi nilai, atau menyampaikan sebuah gagasan teori. Buku itu juga tidak ditulis dari hasil penelitian dan percobaan yang membuat isi buku itu benar-benar perlu disampaikan kepada, dan layak dikonsumsi oleh publik. Sehingga, pembaca juga berhak menilai kualitasnya.


Fenomena seperti itu, hemat saya, tidak hanya terjadi dalam satu lingkungan kasus seperti yang saya jumpai tadi, tetapi masih banyak terjadi pula di tempat-tempat lain dengan motif yang sama. Padahal, kejadian seperti itu jelas merupakan sesuatu yang buruk, menghancuran kualitas dunia akademik di perguruan tinggi, karena karyanya diperoleh dari hasil jadi buatan orang lain.


Alasan kenapa aktivitas itu dikatakan buruk dan lebih dahsyat dampaknya dari bom buku, karena pembuatan buku-buku seperti itu, tanpa seleksi dan tanpa proses edit yang ketat oleh seorang editor berkualitas secara akademik. Dalam dunia tulis-menulis, sebuah karya tanpa editing tentu hasilnya akan meragukan.


Namun, hal itu bisa terjadi karena sekarang banyak bermunculan penerbit-penerbit komersial, tanpa sebuah menajemen, visi dan misi yang tepat, serta tanpa adanya seorang editor. Penerbit semacam itu biasanya dikejar oleh para dosen untuk menerbitkan karya tulis mereka. Tujuannya, yang penting ada ISBN-nya. Dengan ISBN, maka buku itu sudah layak dibuat sebagai persyaratan untuk kenaikan pangkat/golongan dosen.


Buku yang diterbitkan hanya dimaksudkan untuk kenaikan pangkat semata, seperti yang penulis paparkan tersebut. Dhus, sudah jelas kualitas kandungan isi dalam buku itu tidak dianggap penting lagi.


Ketika kualitas sebuah buku tergolong jelek, karena ditlis asal jadi, meski ber-ISBN, sudah barang tentu hal ini akan berpengaruh terhadap menurunnya reputasi dunia akademik. Karena, bukankah buku-buku yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar etika penulisan ilmiah? Sejatinya pula, pangkat yang didapat oleh seorang dosen dengan cara 'membuat buku dari hasil karya orang lain' demikian juga merupakan jabatan yang gadu-gadu, penuh kepalsuan. ***



*Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Islam Al-Karimiyyah (STIA) Sumenep, Madura.

10 Mei, 2011

Mbah Sahal Menjawab Persoalan Umat

Oleh: Ach. Syaiful A'la*


Dialog Problematika Umat, karya KH. MA. Sahal Mahfudh. Dari judulnya saja, buku ini menarik untuk dibaca. Layak dikonsumsi oleh para akademisi, dosen, mahasiswa, kiai, santri, pelajar dan masyarakat umum. Buku ini berisi lengkap tentang segala persoalan problematika aktual dan jawabannya yang tengah terjadi di masyarakat. Sehingga kehadiran buku ini menjadi baru diruangan pembaca.


Kelengkapan isi dalam penulisan buku bukanlah tidak penting, karena berbobot tidaknya sebuah buku, pembaca bisa menyambut dengan baik terhadap kehadiran buku juga tergantung kepada isi buku. Tetapi –maaf– kadang-kadang, lengkap bukan berarti menjadi sebuah ukuran bahwa buku itu berkualitas, lain dari hal itu tergantung juga kepada siapa penulisnya. Berbicara penulis berarti bicara soal keilmuan yang dimiliki si penulis buku.


Buku yang kini hadir diruang pembaca ini ditulis oleh orang yang tidak mungkin diragukan lagi keilmuannya (ke-aliman-nya). Ia adalah tokoh masyarakat, ulama, pengasuh pondok pesantren besar, ilmuan, dan Rois Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). Sebut saja namanya adalah KH. MA. Sahal Mahfudh. Sosok nama kiai Sahal mungkin tidak asing lagi di Indonesia, khususnya bagi warga nahdliyyin.


Mbah Sahal – sapaan akrab dari KH. MA. Sahal Mahfudh – adalah sosok kiai yang cukup produktif menulis diantara beberapa kiai dikalangan pondok pesantren dan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Disamping Mbah Sahal sering menulis, juga sering dijadikan objek tulisan (penelitian) tentang pemikiran dan kiprahnya. Diantaranya buku-buku yang menulis Mbah Sahal Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren; Kontribusi Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh dalam Perubahan Nilai-Nilai Pesantren (Pustaka Pelajar, ditulis oleh Zubaedi) dan Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh; Antara Konsep dan Implementasinya (Khalista, Jamal Ma’mur Asmani) serta beberapa dokumen tulisan lain baik yang telah terbit dan yang belum diterbitkan.


Dengan keilmuan yang dimilikinya, Mbah Sahal mempunyai kepribadian yang khas, pemikirannya yang tajam dalam memberikan solusi-solusi dikala memberikan jawaban terhadap persoalan umat, argumetatif, merakyat, objektif dan transparan, maka tidak berlebihan kiranya jika penulis memberi julukan kepada Mbah Sahal sebagai pelaku sejarah, santri taat, dan terakhir adalah sebagai ulama “khos”. Bukan ulama kaos.


Selama perjalanan hidupnya, Mbah Sahal tidak pernah tergiur dengan godaan politik praktis, layaknya beberapa kiai pondok pesantren saat ini yang lebih memilih berjuang lewat jalur politik. Ketidaktertarikan Mbah Sahal kepada politik bukan berarti tidak tahu informasi dan perkembangan politik di tanah air, Mbah Sahal sangat tahu isu perkembangan terkini karena dirinya senang membaca. Mungkin dalam dalam pikiran Mbah Sahal, kalau terlalu masuk menjadi pemain semua kadang-kadang banyak kiai pondok pesantren dakwah dikandang pesantrennya hampir di nomor duakan oleh gerakan politiknya. Bagi Mbah Sahal, pesantren tetap diijadikan ladang perjuangan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis pesantren, seperti pemberdayaan dalam hal keagamaan, ekonomi, sosial dan budaya.


Kepribadian Mbah Sahal adalah sesosok orang yang selalu haus ilmu, demikian itu bisa dilihat dari perjalanan pendidikannya. Tidak sedikit pondok pesantren yang disinggahinya. Belajar merupakan prinsip hidup bagi Mbah Sahal. Sejak menginjak masa-masa remaja, waktunya selalu dimamfaatkan untuk mengaji dan mencari ilmu. Sehingga tak heran jika Mbah Sahal adalah sosok kiai yang akademisi dan ilmuan. Bahkan saking konsistennya terhadap keilmuan yang diusung (fiqh), Mbah Salah mendapat penganugerahan titel Doktor Honuris Causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Itu pertanda bahwa Mbah Sahal orang yang ngetol dan konsisten di dalam memperjuangkan nilai-nilai (warisan) fiqh dan tradisi pesantrennya.


Pada mulaya, terbitan pertamanya buku ini berjudul Dialog dengan Kiai Sahal Mahfudh (Solusi Problematika Umat) pada tahun 2003, terasa dibutuhkan dan dicari oleh masyarakat sehingga buku itu didesain ulang dan dicetak kembali yang kini tampil dihadapan pembaca. Buku ini mengupas tuntas tentang panduan ibadah mulai dari mahdah dan ghairu mahda. Misalnya bab tentang problematika bersuci, salat, puasa dan ramadhan, zakat dan pemberdayaan ekonomi umat, haji, rumah tangga, tuntunan ibadah dan rekayasa tekonologi, akidah-akhlak, menggunakan kitab suci, makanan hingga etika sosial.


Beberapa persoalan dalam buku ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul di masyarakat yang terkadang diangap sepele dan tidak dicarikan jawabannya. Oleh Mbah Sahal, sebagai sosok kiai yang selalu mempunyai kepedulian untuk memberikan jawaban setiap pertanyaan yang ada sebagai bentuk tanggung jawab dirinya sebagai orang yang ditokohkan oleh masyarakat untuk menjawab beberapa lontaran permasalahan yang muncul. Jadi, Mbah Sahal tidak pernah mengesampingkan persoalan-persoalan kecil-kecil yang tengah dihadapi waraganya, dicarikan solusi dan jawabannya.


Jawaban-jawaban Mbah Sahal dalam buku ini adalah reflektif-argumentatif (kontekstual). Literatur yang digunakan tidak hanya terfokus pada satu teks, tetapi banyak melakukan perbandingan dengan teks (kitab-kitab kuning) lainnya. Sehingga di dalam memberikan jawaban, Mbah Sahal tidak terkesan sebagai orang yang menggurui, yang harus diikuti pendapatanya, melainkan memberikan tawaran-tawaran elastis pada setiap jawaban yang ada. Selamat membaca!


*Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya & Dosen STIA Sumenep


DATA BUKU:
Judul: Dialog Problematika Umat
Penulis: KH. MA Sahal Mahfudz
Penerbit: Khalista, Surabaya dan LTN PBNU
Cetakan: I, Januari 2011
Tebal: xii+464 Halaman

12 Februari, 2011

Media Pembelajaran dalam Al-Qur’an

Oleh: Ach. Syaiful A'la*


Fenomena baru di Negara-negara non muslim terakhir ini, seperti di negara Amerika Serikat (AS) pasca hancurnya gedung WTC adalah masyarakat disana banyak yang membeli dan membaca Al-Qur’an. Kitab suci ini menjadi kitab terlaris dan banyak dibaca orang di Negara adikuasa tersebut. Maka tidak heran jika Philip K. Hitti mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang paling banyak dibaca sepanjang sejarah umat manusia.


Al-Qur'an juga merupakan satu-satunya kitab yang terus-menerus dihafal oleh ratusan ribu manusia. Bukan hanya oleh mereka yang mengerti bahasa Arab, namun juga oleh mereka yang sama sekali tidak pernah belajar bahasa Arab. Mereka membaca dengan tekun dan menghafal dengan telaten. Sehingga banyak diantara mereka mengkhatamkan bacaan al-Qur'an beberapa puluh kali dalam hidupnya, dan menyelesaikan hafalan al-Qur'an dari halaman pertama hingga terakhir, tanpa satu huruf pun tertinggal. Tidak ada satu buku atau kitab suci pun yang bisa menandingi atau paling tidak menyamai al-Qur'an dalam hal ini.


Itu baru dalam hal dibaca dan dihafal. Bagaimana halnya dengan usaha menggali kandungan al-Qur'an? Ratusan hingga ribuan buku telah diterbitkan dalam usaha manusia menggali kandungan al-Qur'an. Dari buku yang hanya memuat beberapa halaman hingga buku yang memuat puluhan jilid. Dari buku paling sederhana yang ditujukan untuk orang-orang awam, hingga buku yang jlimet yang hanya bisa dipahami orang-orang yang mempunyai kapasitas keilmuan yang memadahi. Dari buku yang mengajarkan cara membaca al-Qur'an, hingga buku yang membahas makna al-Qur'an kata perkata. Dari buku yang ditulis orang yang sangat shaleh sampai orang yang amat thaleh; dari orang yang ingin menunjukkan kemukjizatan al-Qur'an hingga orang yang mencoba menunjukkan kepalsuan al-Qur'an sebagai wahyu dari Tuhan Semesta Alam. Dan seterusnya.


Dalam tulisan ini, penulis mencoba dari Al-Qur’an yang cukup umum (general) itu, mengambil suatu bahasan tentang Amthal (perumpamaan-perumpamaan) dalam Al-Qur’an kaitannya dengan pendidikan. Apakah ada hubungannya materi (amthal) tersebut atau tidak? Secara tegas tulisan ini berdasar definisi dari amthal pada bahasan sebelumnya ada keterkaitan antara materi amthal dengan pendidikan (khusus konsentrasi kajian media pembelajaran). Artinya studi tentang Amthal dalam studi Al-Qur’an ketika disandingkan dengan pendidikan, penulis menyebutnya dengan sebuah media (alat) dalam pembelajaran.


Sadiman (2006) menyebutkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.


Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar siswa.


Bruner (1966) mengungkapkan ada tiga tingkatan utama modus belajar, seperti: enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau gambar), dan symbolic (pengalaman abstrak). Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses belajar. Sebagai ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok.


Dalam tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman pebelajar secara langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.


Walhasil, bahwa media pembelajaran merupakan medium (alat) penyampai pesan (materi dari seorang pengajar kepada peserta ajar dalam pendidikan) untuk maksud tertentu agar penerima menjadi faham (baca: Alo, 2010). Begitu juga amthal dalam Al-Qur’an, bahasa-bahasa (amthal) itu digunakan oleh Allah SWT sebagai penyampai teks dengan maksud agar supaya gampang difahami makna teksnya oleh pendengar (manusia). Sehingga adanya media (amthal) sangat penting dalam beberapa aspek, baik dalam melakukan komunikasi ditengah-tengah masyarakat juga dalam pembelajaran di dalam dunia pendidikan.



*Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

note: dimuat di website NU Online (kolom)

Ironi Tol Tengah Kota Surabaya

Oleh: Ach. Syaiful A'la*


Kontroversi atas rencana pembangunan Tol Tengah Kota Surabaya terus menggelinding tak ada habinya. Sepertinya tidak akan menemukan ujung temu selama tidak ada kompromi antara yang pro dan yang kontra terhadap adanya garapan proyek tersebut. Hal itu terjadi karena antara pihak yang pro (pemerintah pusat, pemprov dan DPRD kota Surabaya) dan yang menolak dalam hal ini pemkot sama-sama memiliki prinsip dan kepentingan (politik) yang berbeda, baik kepentingan kebijakan yang beroientasi terhadap pemberdayaan terhadap masyarakat Surabaya yang sifatnya populis atau yang malah sebaliknya.


Sejenak, rencana pembangunan Tol Tengah Kota Surabaya tujuannya memang dimaksudkan untuk memperlancar sarana transfortasi guna Surabaya bisa meminimalisir terjadi kemacetan. Karena bahasa macet bagi Surabaya juga merupakan bahasa yang tak asing lagi dan sungguh menjenuhkan tetapi tidak boleh didiamkan dan harus dicarikan penyelesaiannya. Untuk menghindari dari problem kemacetan itu, apakah dengan pembangunan jalan Tol Tengah Kota akan benar-benar menjadi sebuah solusi? Bagaimana nasib pemilik lahan terhadap pembebasan yang akan dilintasi Tol Tengah Kota? Berapa kerugian masyarakat terdampak? Dampaknya terhadap pendidikan? Siapa saja yang akan menjadi korban dari pembangunan jalan Tol Tengah Kota nanti? Lalu siapa yang beruntung? Kalau beberapa pertanyaan itu dijawab secara objekif, kita (khususnya warga Surabaya) akan tahu apakah pembangunan Tol Tengah Kota itu sebagai wujud final untuk kepentingan warga atau siapa?

***
Hari Selasa, massa tergabung dalam satu visi dan misi yang menyatakan menolak terhadap rencana pembangunan Tol Tengah Kota Surabaya melakukan aksi agar rencana tersebut dibatalkan. Dan pengunjuk menuntut agar ketua DPRD Surabaya mundur dari jabatannya karena kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada rakyat.


Ada yang menarik sebenarnya dari aksi massa yang menolak pembangunan Tol Tengah Kota itu. Menariknya adalah tanggapan Ketua Dewan DPRD Surabaya, Wishnu Wardhana (WW) terhadap tuntutan massa. Saya terkejut dan sangat kecewa ketika membaca jawaban Ketua DPRD Surabaya itu di sebuah koran terhadap para demontran. “Tol tengah kota bakal membuat transfortasi menuju Madura jauh lebih cepat lagi karena tidak perlu lagi terjebak macet di Jl. A. Yani maupun Wonokromo Surabaya” (Metropolis, 25/1/2011).


Hemat saya, jawaban itu bukanlah sebuah jawaban yang solutif dari seorang pemimpin kalau memang bijak, tetapi adalah ngapusi. Bukan pula jawaban yang berarti tetapi mau menggeruguti. Karena pembangunan jalan Tol Tengah Kota adalah bukan milik orang Madura, tetapi untuk masyarakat Surabaya. Apakah karena yang melakukan demo kebanyakan berasal dari Madura kemudian dijadikan senjata untuk sebuah jawaban untuk menyelamatkan kepentingannya? Padahal sampai saat ini belum ada aksi secara khusus yang dilakukan oleh masyarakat Madura yang melakukan tuntutan tentang persoalan kemacetan kemacetan di Surabaya lantaran ia (orang Madura) mempunyai usaha melalui jalur transportasi. Sungguh sebuah jawaban yang tanpa alasan dan tidak pantas diucapkan seorang atasan.


Dari jawaban itu, masyarakat tentunya sudah tidak usa susah mencari jawaban tentang apakah pembangunan Tol Tengah Kota itu betul-betul sebagai bentuk kebijakan pemberdayaan terhadap rakyat atau hanya kepentingan beberapa oknom yang telah ditunggangi para investor. Mereka yang hanya berfikir tentang modernisasi tanpa bisa beradaptasi dengan masyarakat yang jarang makan nasi. Yang dilihat hanyalah sebuah keuntungan besar untuk kepentingan diri dan kelompoknya yang terkadang – maaf – berkedok untuk pembangunan negara.


Ketika pemerintah merencanakan suatu proyek hendaknya membuat kesepakatan dulu dengan masyarakat, melakukan serap aspirasi apakah pembangunan seperti Tol Tengah Kota benar-benar bermamfaat adanya dan dibutuhkan oleh masyarakat Surabaya. Itulah yang disebut dengan sistem demokrasi. Karena pada dasarnya, asas dari demokrasi adalah konsep musyawarahnya, mencari titik temu (solusi) dengan cara bersama-sama.
Bersama-sama disini tidak cukup kalau hanya eksekutif dan legeslatif. Karena legeslatif (dewan) yang saat ini sebagai wakil rakyat, sementara rakyat sudah mulai tidak percaya dengan wakilnya. Kenapa? Karena kebijakan-kebijakannya yang cenderung untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.


Kenapa pembangunan Tol Tengah Kota mendapat perlawanan dari masyarakat, ini bertanda bahwa kebijakan yang dibuat adalah sepihak. Pasilitas seperti Tol Tengah Kota (bukan berarti tidak dibuthukan untuk mengatasi kemacetan di kota Surabaya) melainkan tanpa sebuah konsep dan analisis dan tepat.

*Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

24 November, 2010

ANTISIPASI BANJIR LOKAL

Oleh : Ach. Syaiful A’la*


Banjir. Kata ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Surabaya. Sudah menjadi sego setiap saat. Banjir merupakan problem yang mendasar saat tengah dihadapi kota Metropolitan ini dan boleh tinggal diam tetapi harus dicarikan solusinya. Saking pentingnya penyelesaian persoalan banjir di kota Surabaya, terkadang sampai dijadikan ajang kampanye (janji-janji politik) oleh para kandidat calon wali kota dan calon wali kota saat musim kampanye, misalnya seperti pada pilkada 2010 untuk mencari simpatik masyarakat.


Persoalan banjir yang terjadi di kota Surabaya, mungkin tidak separah kabupaten lain di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, yang ketinggian airnya sampai beberapa meter. Dari akibat tingginya air itu, sehingga bisa merobohkan bangunan, menumbangkan pohon-pohon besar, menghanyutkan harta milik, jembatan menjadi putus, memakan korban jiwa, gagal panen, sehingga kalau dikalkulasi menunjukkan jumlah kerugian besar. Banjir yang menimpa kota Surabaya tentunya berbeda, rata-rata ketinggian airnya hanya berkisar 50 cm. Misalnya beberapa hari sebelumnya banjir lokal menimpa daerah Tandes, Margomulyo, Banyu Urip, Tenggilis dan lainnya.


Oleh sebab terjadinya banjir, maka berakibat pula pada terjadi kemacetan di beberapa arus jalan dimana-mana. Sangat “sepele” memang kedengarannya dampak dari banjir itu, hanya “macet”. Tetapi macet di Surabaya juga berbeda dengan macetnya di kota-kota yang terkena banjir besar. Akibatnya juga hampir sama dengan korban banjir besar yang terjadi dibeberapa daerah lain yang dengan ketinggian air – kadangkala – sampai diatas atap rumah. Karena “macet” juga adalah persoalan mendasar di Surabaya yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Terjadinya kemacetan bisa menyebabkan banyak waktu terbuang di jalan, sikap individualistik tumbuh semakin ketara, karena satu dengan lainnya sudah tidak memikirkan di pinggirannya, saling mendahului dan lain sebagainya yang penting dirinya sampai tujuan tanpa harus memperhatikan disekitarnya. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperbincangkan persoalan terjadinya kemacetan di kota Surabaya, melainkan ingin mengetengahkan persoalan banjir.


Dalam rangka menyelesaikan dan mempercepat persoalan banjir yang terjadi di beberapa daerah (kecamatan) di kota Surabaya, dinas PU Binamarga segera membuat kebijakan yaitu dengan cara menguras, menggali dan memperlebar saluran-saluran air limbah. Lain dari itu, pemerintah kota (pemkot) juga menyediakan mesin Bor untuk memindahkan air yang mengenang pada saluran/penampuangan air yang lebih besar (sungai). Tidak hanya demikian, dinas PU Binamarga juga menghimbau kepada masyarakat untuk membuat biopori, tujuannya agar bisa menyerap sebagian air hujan yang turun dari langit ketika intensitas hujan tinggi dan masyarakat juga diminta untuk membuang air ke sumur pada saat hujan yang turun dari genting, tujuannya tidak lain agar supaya air hujan tidak semua menuju kearah saluran air.


Dibutuhkan Kesadaran Terpadu
Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya melalui dinas PU Binamarga merupakan langkah tepat dan patut diajungkan jempol dalam usanya mengatasi persoalan banjir di Surabaya. Walaupun tidak sepenuhnya berhasil, usaha tersebut telah meminimalisir terjadi banjir lokal-lokal di beberapah daerah di kota Surabaya. Tetapi usaha yang dilakukan oleh pemerintah akan nihil (tidak mempunyai makna apa-apa dan tidak bisa berlanjut) tanpa adanya kesadaran bersama (terpadu) dari masyarakat Surabaya dalam serta ikut membantu menyelesaikan permasalahan banjir di kota Surabaya.


Apalah artinya pemerintah menggali saluran-saluran kecil (air limbah) kalau masyarakatnya masih membuang sampah sembarangan, membuang sampah tidak pada tempatnya, dihanyutkan di selokan-selokan air, sehingga berakibat pada tersumbatnya aliran air menuju sungai. Akibatnya banjir. Padahal salah-satu penyebab terjadi banjir-banjir lokal di beberapa tertentu yaitu oleh tersumbatnya aliran air menuju sungai besar oleh sampah-sampah yang ada dalam saluran air kecil.


Karena tidak sedikit – untuk tidak mengatakan banyak – beberapa aliran air yang tersumbat oleh sampah-sampah, semisal plastik. Di beberapa jalan sering saya temui, baru selesai dilakukan perbaikan, penggalian, pelebaran, pembentonan saluran airnya telah tersumbat oleh sampah nakal masyarakat. Apa gunanya dan mamfaatnya pembangunan saluran air dengan anggaran (APBD) besar kemudian masyarakat sendiri tidak bisa menjaga dan merawatnya. Padahal salah-satu bentuk kecintaan kita terhadap bangsa (nation) adalah menjaga kekayaan (yang dimiliki) Negara dan melestarikannya.


Guna menciptakan lingkungan kota yang bersih dan terhindar dari bahaya banjir, maka ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh pemerintah kota Surabaya. Pertama, menggalakkan (terus) lomba kebersihan kampung. Sebenarnya ini saudah dilaksanakan, hemat penulis masih terkesan serimonial saja. Dengan berpacu menggalakkan kebersihan kampong masyarakat akan berlomba-lomba menjaga dan melestarikan kampungnya masing-masing. Bentuk penilaian bukan hanya pada sisi luarnya saja, seperti keindahan cat-cat, lukisan, penataan bunga-bunga dipinggiran jalan, kelengkapan info kampung, tetapi juga dilakukan penilaian terhadap kebersihan saluran air. Hal itu jangan sampai luput dari pantauan dewan juri dalam memberikan penilain pada saat mau menentukan siapa pemenangnya.


Kedua
, pemerintah kota Surabaya hendaknya memberikan sanksi tegas kepada bawahannya. Misalnya ada sebuah kecamatan yang dianggap kotor, maka camat dimaksud langsung dikenai sanksi. Camat juga memantau terhadap daerah (kelurahan) mana yang kotor dan memberikan sanksi. Kelurahan juga akan memnatau dan memberikan sanksi kepada ketua RW dimana RT-nya melakukan perbuatan yang membuat tidak nyaman terhadap keindahan kota. Kalau perlu paying hukumnya. Dengan kebijakan birokratik tersebut, diharapkan – dan harapan kita semua tentunya – kota Surabaya akan menjadi kota yang bersih dan banjir pun akan larih dari kota Surabaya ikut mengalir bersamaan dengan lancarnya air menuju sungai. Maka Surabaya kedepan akan menjadi kota impian banyak orang.


*Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya &
Dosen Sekolah Tinggi Islam Al-Karimiyyah (STIA) Sumenep.

07 November, 2009

Mengamini Suara Hati

Oleh: Ach. Syaiful A'la, S.Pd.I


Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda : “…didalam tubuh kita (manusia) terdapat segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuhnya, dan begitu sebaliknya, apabila segumpal darah itu jelek, maka rusaknya semuanya, segumpah darah itu tiada lain adalah hati”.


Setiap hari, mungkin kita sering melihat sebuah tulisan yang dipasang oleh orang-orang atau pemerintah dijalan-jalan yang biasanya rawan seperti rawan kecelakaan, tikungan, tanjakan, turunan tajam, jalan bergelombang, keramain tempat bermainnya anak-anak, atau ada hewan (anjing) galak dan lain sebagainya, biasanya ditulislah dengan kata-kata “Hati-Hati!”. Hal ini menandakan bahwa segala gerak-gerik tubuh kita selalu dikendali oleh segumpal darah yang disebut dengan hati.


Kita tentunya semuanya sepakat dan menyadari bahwa suara hati dalam diri seseorang itu tidak pernah bohong. Hal ini terlihat ketika seseorang misalnya melakukan suatu perbuatan kejelekan seperti mencuri, intimidasi, merampok, mencopet atau bahasa ngetrennya disebut dengan istilah KKN (korupsi, kolusi dan niputisme) hampir dipastikan muncul perasaan dalam hatinya yang paling dalam (fuadi) bahwa yang ia perbuat adalah menyimpang dari ajaran Agama, tetapi mungkin karena terpaksa dan desakan hawa nafsu mereka tetap melakukan hal yang mungkar.


Kejadian-kejadian seperti diatas bisa kita lihat dalam beberapa kasus, ketika seorang pencuri kemudian tertangkap apa yang terjadi? Ia menangis dan menyesal. Para pelacur yang setiap hari melayani laki-laki, ketika dilakukan penelitian dan wawancarai, ia menjawab babhwa didalam hati mereka juga menangis dan menyesal, tetapi karena himpitan globalisasi, kondisi ekonomi yang semakin menyusahkan orang lemah dan sebagainya, sehingga pekerjaan tersebut walaupu perbuatan keji tersebut bertantangan dengan agama yang telah dilakukan. Begitu pula dengan orang kafir Quraisy yang tidak mau mengakui kenabian Nabi Muhammad, sebenarnya ia tahu bahwa Muhammad adalah seorang utusan (rasul). Tapi kerena gengsi dan status mereka tetap mengingkarinya. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa suara hati sebenarnya tidak pernah berbohong, selalu mengajarkan dan membimbing seseorang kepada jalan kejujuran dan kebenaran.


Kehidupan modern yang sangat rumit dan kompleks seperti sekarang ini penuh dengan problematikan dan tantangan yang sangat mudah memicu terjadi segala hal pada diri seseorang. Orang yang selalu menuruti apa yang menjadi kemauan otaknya kemudian tidak tercapai, biasa banyak yang cendrung stress. Karena hatinya telah bertentang dengan otaknua. Stress pada tindak lanjut akan menyebabkan seseorang kehilangan akal, arah, dan tujuan hidup. Untuk menyikapi dimaksud seseorang dituntut untuk memantapkan imannya kepada Allah. Iman kepada Allah bukan hanya mayakini bahwa Allah itu ada, tetapi meyakini juga bahwa Allah itu Maha Bijaksana, Maha Adil, tidak mungkin salah, dan tidak mendzalimi hambanya. Tanpa iman yang kuat kita tidak mungkin menghadapi kehidupan dengan tepat, wajar dan sukses.


Orang yang tenang, apabila hatinya tenang. Menghilangkan stress dan menjadikan hati tenang, damai, sejuk, sejahtera dan bahagia adalah tujuan hidup yang didambakan oleh semua orang di dunia ini. Tetapi untuk sampai kesana, mencapai ketenangan hati tidaklah gampang, mengingat tentang problematika kehidupan yang semakin kompleks, plik dan rumit. Namun bagi orang yang imannya sudah mantap kepada Allah, maka tidak dibenarkan jika berputus asa dalam berusaha untuk mencapai ketenangan. orang Orang yang gampang putus asa, dalam Islam adalah bagian dari duri dalam beragama, selain itu pula adalah tipu daya setan yang ditiupkan kepada manusia untuk mengikuti jejaknya menuju jurang ketidak pastian, tiada lain adalah tempat kesengsaraan.


Buku dengan judul Ketika Hati Bersimpuh yang ditulis Hery Sucipto, Sarjana dari Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir ini, mengajak kepada kita untuk selalu optimis dalam menghadapi hidup, tegar dalam menghadapi cobaan, serta penuh semangat dan energik dalam menggapai tujuan serta apa yang yang menjadi cita-cita dalam hidup ini. Didalamnya juga disajikan bagaimana kita (reader) dilatih untuk menyelesaikan suatu masalah, kiat meraih sukses dengan sabar, tulus dalam beramal dan beribadah, dan trik bagaimana untuk selalu menjadi orang yang bermamfaat kepada orang lain. Sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah: “Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermamfaat bagi manusia” (khairun al-nass anfa’uhum li al-nass).


Didalam buku ini pula dipaparkan banyak kisah (sejarah) tentang orang-orang mulia yang tawadu’ dan selalu menuruti kemauan hatinya . Seperti Syeik Yusuf, ulama besar yang sampai mempunyai enam makam, kezuhudan Abu Dzar Al-Ghifari, Ummu Sulaim, seorang istri yang sangat bijaksana, Aisyah, yang menjadi Ibu Agung umat Islam, mengenalkan seorang sosok yang mempunyai cinta sejati kepada Allah, seperti Rabiah Al-Adawiyah, dan yang terakhir bagaimana belajar hidup cinta damai dari Rasulullah SAW.


*) Alumnus PP Nasa Gapura Timur, IAIN Sunan Ampel Surabaya


DATA BUKU:
Judul Buku: Ketika Hati Bersimpuh; Kisah Pensucian Hati, Tauladan dan
Perbaikan Diri
Penulis : Hery Sucipto
Penerbit: Himmah; Grafindo Groups, Jakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal: 306 Halaman